Langkah itu diperkirakan akan menopang harga baja nirkarat, namun sekaligus memberi tekanan tambahan pada pasar nikel. Harga kedua komoditas ini sempat anjlok ke level terendah dalam lima tahun terakhir pada April lalu.
Lini produksi yang dihentikan kini masuk masa perawatan, tanpa kejelasan kapan akan kembali beroperasi. Akibatnya, salah satu pabrik penggilingan di kawasan tersebut juga ikut berhenti beroperasi.
Tsingshan belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi. Menurut data Macquarie Group Ltd., Tsingshan menyumbang hampir sepertiga dari total produksi baja nirkarat global pada tahun lalu.
Investasi Tsingshan di Morowali memang dirancang untuk memanfaatkan posisi strategis Indonesia sebagai penguasa pasar nikel dunia.
Berkat suntikan modal asing—termasuk dari Tsingshan—Indonesia kini memasok lebih dari setengah kebutuhan nikel global. Logam ini juga menjadi komponen penting dalam baterai kendaraan listrik.
Dalam catatan Macquarie pada April lalu, China dan Indonesia menyumbang 71% dari total produksi baja nirkarat dunia. Namun, perlambatan ekonomi China menekan permintaan domestik, sementara ekspor dari kedua negara kini menghadapi tekanan dari kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
(bbn)































