Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, Djoko tidak mengetahui pasti jumlah volume kobalt sulfat yang dieskpor keduanya.

“Sementara ini nampaknya China memperoleh sebagian pasokan dari Indonesia,” ujarnya.

Total smelter nikel yang beroperasi saat ini sebanyak 49 berbasis rotary kiln-electric furnace (RKEF) dan 5 HPAL dengan kebutuhan 290 juta ton bijih nikel.

Sekadar catatan, Indonesia merupakan produsen kobalt kedua terbesar di dunia setelah Kongo. Per 2024, produksi kobalt RI ditaksir mencapai 28.000 metrik ton atau naik dari 19.000 metrik ton pada 2023, menurut data United States Geological Survey (USGS).

Adapun, Indonesia memiliki cadangan kobalt sebanyak 500.000 ton.

Belum Berkembang

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menyebut, meskipun Indonesia adalah penghasil kobalt terbesar kedua di dunia setelah Kongo, industri pertambangan komoditas tersebut masih belum dikembangkan.

“Industri pengolahan kobalt di Indonesia memang belum berkembang seperti halnya nikel. Sebagian besar kobalt masih dijadikan sebagai [komoditas] ikutan bijih nikel,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Bisman pun menyangsikan Indonesia dapat memperoleh keuntungan untuk mengisi pasar yang ditinggalkan oleh kobalt asal Kongo di industri baterai global.

“Jadi ini momentum dan peluang pasar bagi Indonesia. Sayangnya, Indonesia belum sepenuhnya siap dan maksimal untuk mengisi pasar yang kosong ditinggal Kongo,” ujarnya.

Bisman menambahkan pangsa pasar ekspor kobalt asal Indonesia selama ini masih sama dengan nikel, yaitu ke China, lantaran kobalt masih dikategorikan sebagai mineral ikutan dalam komoditas nikel.

Perkiraan produksi kobalt Indonesia, dimana negeri punya cadangan 600 ribu metrik ton. (Dok Bloomberg)

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) enggan disebut mengabaikan peluang di tengah prospek penguatan harga kobalt, setelah Kongo kukuh melanjutkan moratorium ekspor mineral logam bahan baku baterai kendaraan listrik tersebut.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq mengungkapkan pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18/2025 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian ESDM.

Dalam PP tersebut, pemerintah telah memasukkan kobalt sebagai komoditas yang dikenakan pajak royalti baik sebagai logam maupun sebagai mineral ikutan.

“Itu menunjukkan bahwa pemerintah menganggap kobalt sebagai sumber daya penting untuk menghasilkan pendapatan negara sebagai modal pembangunan,” kata Julian saat dihubungi, Kamis (15/5/2025).

Sebelumnya, Kongo berencana melanjutkan larangan ekspor kobalt sehingga berpotensi membuat harga logam tersebut melonjak dan menyebabkan produsen baterai global mencari alternatif.

Harga kobalt telah melonjak lebih dari 50% sejak negara Afrika yang bertanggung jawab atas tiga perempat produksi global itu menghentikan ekspor pada 22 Februari.

Perpanjangan larangan atau kuota yang ketat dapat mendorong harga lebih tinggi lagi, kata Benchmark Mineral Intelligence pada Rabu (14/5/2025) dalam sebuah laporan yang disiapkan untuk Cobalt Institute.

“Pemerintah DRC telah mengindikasikan bahwa kontrol ekspor lebih lanjut, termasuk perpanjangan larangan, atau kuota, akan menyusul,” kata Benchmark.

CMOC menjadi produsen kobalt terbesar di dunia./dok. Bloomberg

Kongo memoratorium ekspor kobalt selama empat bulan pada Februari setelah harga jatuh ke posisi terendah dalam sejarah akibat meningkatnya produksi oleh CMOC Group Ltd dari China di dua operasinya di negara tersebut.

Permintaan logam tersebut, yang juga digunakan dalam paduan super dan aplikasi pertahanan, tumbuh 12% tahun lalu dan tetap kuat, kata Benchmark.

Namun, laporan tersebut menguraikan keseimbangan yang rumit antara pembuat kebijakan, penambang, dan produsen saat mereka berupaya mengamankan bahan baku utama.

Banyak pembuat kendaraan listrik China telah beralih ke baterai litium besi fosfat atau lithium ferro phosphate (LFP) yang tidak mengandung kobalt. Pasar EV menyumbang 43% dari permintaan kobalt pada 2024.

Pengendalian produksi kobalt rumit di Kongo karena hubungannya dengan tembaga. Harga logam tersebut mencapai titik tertinggi dalam sejarah tahun lalu, memacu peningkatan produksi.

Akibatnya, CMOC memproduksi 31% lebih banyak dari kapasitas kobalt yang dinyatakan di tambangnya, menurut laporan tersebut.

Glencore Plc dan Eurasian Resources Group merupakan produsen kobalt terbesar kedua dan ketiga di negara tersebut.

Indonesia menyumbang 12% dari pasokan global tahun lalu dan diperkirakan akan mencapai 22% pada 2030, kata Benchmark.

Pembelian kobalt dunia oleh China./dok. Bloomberg

Kobalt telah menjadi titik api dalam perebutan mineral-mineral penting di dunia. China memurnikan 79% logam tersebut, sedangkan Finlandia di posisi kedua hanya menyumbang 7% tahun lalu, kata Benchmark.

AS sedang berunding dengan Kongo tentang pengamanan akses ke mineral-mineral penting termasuk kobalt dengan imbalan bantuan keamanan.

“Mengingat dominasi China di seluruh rantai pasokan kobalt dan bagian-bagian penting dari rantai nilai baterai, diversifikasi pasokan dan pengurangan risiko dari China merupakan salah satu pendorong geopolitik utama,” menurut laporan tersebut.

(mfd/wdh)

No more pages