Logo Bloomberg Technoz

Maka itu, Kepala Negara meminta pelaku jasa keuangan untuk tidak menempatkan dana yang terlalu besar pada ketiga instrumen moneter, dan bersedia menaruh dana di sektor riil melalui penyaluran kredit secara gencar.

"Jangan semuanya ramai-ramai beli SBN, SRBI, dan SVBI, meskipun boleh-boleh saja, tapi agar sektor riil bisa kelihatan lebih baik dari tahun lalu," ujar Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini sepakat bahwa perbankan harus hati-hati dalam melangkah. Namun, dia mengimbau perusahaan tak perlu terlalu protektif dalam menyalurkan kredit, karena akibatnya perputaran dana di sektor riil menjadi kering.

"Saya ajak seluruh bank harus prudent dan hati-hati, tapi tolong lebih didorong lagi kreditnya, terutama UMKM," kata Jokowi.

Berdasarkan Tim Riset Bloomberg Technoz, tingkat bunga tinggi yang diberikan oleh BI untuk SVBI dikhawatirkan semakin membuat perbankan 'malas' menyalurkan kredit. 

Perbankan bisa terdorong untuk memarkir dana simpanan mereka di instrumen tanpa risiko seperti SVBI yang memberikan imbal hasil tinggi sehingga bisa menikmati selisih bunga, alih-alih menyalurkan kredit ke sektor riil yang dibutuhkan perekonomian agar terus berputar di tengah tekanan daya beli saat ini.

Bank menikmati keuntungan setidaknya sebesar 3,41% dari penempatan dana valas di SVBI. Angka itu didapat dari selisih antara tingkat bunga SVBI tertinggi 5,6% untuk tenor 3 bulan dikurangi tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk simpanan valas di bank yang sejauh ini masih di 2,25%.

Fakta di lapangan memperlihatkan potensi keuntungan yang bisa dinikmati oleh bank dari penempatan dana valas di SVBI bisa lebih besar mengingat tawaran bunga simpanan valas perbankan sejauh ini lebih rendah daripada bunga LPS. 

Bank-bank besar seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, saat ini memberikan bunga deposito valas tertinggi di angka 1,75%. Bank BUMN lain seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga menawarkan tingkat bunga di level serupa. 

Bahkan bank swasta seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sejauh ini menawarkan bunga deposito valas tak sampai 1% per tahun. Sedangkan bank-bank asing seperti HSBC Indonesia memberikan bunga deposito dolar AS tertinggi sebesar 2,25%, tidak berbeda dengan tawaran dari DBS Indonesia yang membanderol rate di 2,75%. 

Data BI mencatat, total nilai simpanan dana valas di perbankan Tanah Air sampai akhir September lalu mencapai Rp1.156,4 triliun, didominasi oleh simpanan dalam bentuk giro sebesar Rp672,7 triliun, lalu deposito sebesar Rp312,2 triliun dan tabungan valas Rp171,5 triliun.

Sementara total nilai dana pihak ketiga dalam rupiah mencapai total Rp6.744,3 triliun didominasi oleh simpanan di deposito sebesar Rp2.651,2 triliun dan tabungan Rp2.424,7 triliun serta sisanya dalam bentuk giro.

Dana simpanan masyarakat yang luar biasa besar itu seharusnya bisa disalurkan menjadi kredit oleh perbankan untuk membiayai sektor riil sehingga roda ekonomi bisa berputar. Terlebih pertumbuhan ekonomi sampai kuartal III lalu sudah melambat di bawah 5% dengan pertumbuhan kredit makin lambat hanya 8,7% sampai akhir September, dari bulan sebelumnya sebesar 8,9%.

Penyaluran kredit ke korporasi melemah dari 8,4% pada Agustus menjadi 8,3%. Sedang penyaluran ke nasabah perorangan turun lebih dalam dari 9,3% menjadi 9% year-on-year pada September lalu. 

Bukan tidak mungkin dengan tawaran bunga tinggi dari SVBI juga SRBI (Sertifikat Rupiah Bank Indonesia) yang sudah lebih dulu meluncur, perbankan semakin dimanjakan.

Data memperlihatkan, penempatan dana bank di berbagai instrumen surat berharga mencapai Rp1.868,94 triliun yang didominasi oleh penempatan di Surat Berharga Negara (SBN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang mencapai Rp1.568,7 triliun sampai akhir Agustus lalu. 

Nilainya semakin besar saat ini yaitu mencapai Rp1.598,3 triliun sampai 17 November lalu berdasar data Kementerian Keuangan RI terakhir. Angka itu belum termasuk penempatan di instrumen SRBI yang nilai emisinya telah mencapai Rp144,31 triliun sampai 6 November lalu. Bunga SRBI juga tinggi sampai menyentuh sedikit di atas 7% dalam beberapa kali lelang. 

(lav)

No more pages