Ia mencontohkan, berbagai material yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya masih dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Salah satunya adalah bagian ikan seperti kepala, sirip, dan ekor yang tidak dimanfaatkan oleh industri pengolahan ikan, tetapi dapat diolah kembali menjadi tepung. Begitu pula berbagai komponen kelapa sawit dan kelapa yang memiliki potensi pemanfaatan lebih luas.
“Kepala, sirip, ekor itu dibuang. Bagi mereka sampah. Tapi bagi orang lain ini ditampung dan kemudian dari situ bisa dibuat pabrik tepung. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan,” jelasnya.
Yassierli menilai peluang tersebut membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha dan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, terutama dalam pengembangan teknologi pengolahan material. Menurutnya, mahasiswa teknik industri perlu menggandeng bidang keilmuan lain, seperti farmasi dan teknik kimia, agar potensi limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang bisnis.
Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ekonomi sirkular tidak cukup hanya dilihat dari aspek penciptaan usaha dan lapangan kerja. Pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan juga harus memenuhi prinsip pekerjaan layak (decent work), termasuk memberikan upah wajar, perlindungan sosial, serta keselamatan dan kesehatan kerja.
“Green jobs itu tidak hanya hijau, tetapi juga harus layak. Jangan sampai kita membangun ekosistem yang ramah lingkungan, tetapi pekerjaannya tidak terlindungi dan gajinya jauh di bawah upah minimum,” tegasnya.
Ia mencontohkan pekerja pemilah sampah yang selama ini banyak berada di sektor informal. Padahal, mereka memiliki kontribusi penting dalam ekosistem ekonomi sirkular. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat pengakuan profesi pemilah sampah, meningkatkan keterampilan mereka agar mampu mengolah material menjadi produk bernilai tambah, serta memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
(ain)





























