Keputusan tersebut harus disetujui oleh seluruh negara yang menghadiri KTT yang dimulai pada 9 November ini.
Kenaikan harga minyak dan gas, yang dipicu oleh perang yang masih berlangsung di Eropa dan Timur Tengah, telah memaksa negara-negara importir bahan bakar fosil—mencakup tiga perempat populasi dunia—untuk mencari cara mengurangi konsumsi dan menemukan alternatif.
Elektrifikasi merupakan bagian dari solusi tersebut. Seiring turunnya biaya panel surya dan baterai, banyak negara memilih untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik dan penggunaan pompa kalor (heat pump).
"Elektrifikasi jelas merupakan hal yang positif," kata Bowen. "Bahkan jika jaringan listrik Anda masih bertenaga batu bara dan Anda tidak memiliki panel surya di rumah, mengisi daya [mobil listrik] dari jaringan listrik berbasis batu bara pun tetap dapat mengurangi emisi hingga sekitar 60%."
Energi primer merujuk pada bentuk bahan bakar sebagaimana ditemukan di alam, seperti minyak mentah; energi akhir merujuk pada bentuk konsumsi bahan bakar saat dikonsumsi, misalnya dalam bentuk bensin atau listrik; dan energi berguna adalah bagian dari energi akhir yang diubah menjadi kerja, seperti untuk menghasilkan gerak atau pendinginan.
Meski sekitar 80% energi primer dunia berasal dari bahan bakar fosil, hanya sekitar 65% dari energi akhir yang bersumber dari batu bara, minyak, atau gas. Oleh karena itu, elektrifikasi pada dasarnya merupakan solusi efisiensi energi, karena mampu mengurangi permintaan energi primer tanpa mengurangi manfaat yang diinginkan masyarakat.
Target elektrifikasi untuk COP31 mendapat dorongan ketika China, penghasil emisi gas rumah kaca terbesar sekaligus produsen teknologi listrik terbesar di dunia, menyatakan dukungan pada target tersebut Oktober lalu. Bowen berharap ambisi ini dapat ditingkatkan lebih jauh.
KTT COP sering kali menampilkan target sukarela dari negara-negara yang bersedia bertindak lebih cepat dalam menangani perubahan iklim.
Pada COP28 di Dubai 2023, misalnya, negara-negara menyepakati target untuk melipatgandakan kapasitas tenaga nuklir hingga tiga kali lipat pada 2050. Hingga Maret, sekitar 38 negara mendukung target tersebut, tetapi kapasitas tenaga nuklir global sejauh ini belum meningkat secara signifikan.
Juga di COP28, keputusan yang dipimpin oleh presidensi mencakup target untuk menggandakan efisiensi energi dan energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030. Meski progres dalam efisiensi energi masih terbatas, ada indikasi kuat bahwa dunia akan mampu mendekati target energi terbarukan tersebut.
Namun, dorongan untuk meningkatkan ambisi dalam elektrifikasi dan pengurangan emisi ini muncul pada masa yang sulit bagi sebagian besar masyarakat yang tengah berjuang dengan masalah keterjangkauan biaya.
Walau elektrifikasi dapat menawarkan energi dengan biaya lebih rendah dalam jangka panjang, proses ini membutuhkan investasi awal yang besar untuk pembangunan infrastruktur.
Namun, Bowen meredam ekspektasi bahwa negara-negara kaya akan menyediakan pendanaan tambahan pada COP31.
"COP kali ini bukanlah forum pendanaan" untuk menetapkan target-target baru, katanya. "Fokusnya adalah bagaimana kita akan mencapai target-target yang sudah ada, serta langkah apa yang perlu diambil untuk mengakses pendanaan yang memang sudah tersedia."
(bbn)































