Logo Bloomberg Technoz

Dari Timur Tengah hingga Laut Utara dan Afrika Barat, premi untuk kargo fisik telah anjlok dalam beberapa pekan terakhir—bahkan dalam beberapa kasus berubah menjadi diskon—seiring dengan melonjaknya ekspor dari negara-negara raksasa Teluk—seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA)—kembali ke tingkat sebelum konflik, sementara permintaan minyak tetap lemah.

Meskipun persediaan minyak dunia sempat terkuras selama konflik yang melibatkan Iran, pasokan kargo yang tersedia untuk dibeli saat ini justru melimpah.

Sejumlah eksekutif industri dan pejabat perusahaan perdagangan dalam sebuah konferensi di Abu Dhabi menyatakan kelimpahan pasokan ini diperkirakan terus berlanjut hingga tahun depan, di tengah permintaan yang juga mengalami tekanan.

Dalam sebuah laporannya, JPMorgan Chase & Co. menyebutkan bulan ini produksi minyak mentah dunia akan melebihi tingkat konsumsi sebesar 1,4 juta barel per hari (bph); sebuah pengingat akan surplus yang sudah terjadi sebelum konflik dimulai.

"Kembalinya surplus fisik, ditambah dengan kabar mengenai potensi kesepakatan antara AS dan Iran, dengan cepat mengikis premi yang terkandung dalam harga minyak," ujar Natasha Kaneva, kepala riset komoditas di bank tersebut.

Salah satu faktor utama di balik pelemahan pasar fisik adalah tingginya biaya sewa kapal tanker. Akibatnya, untuk bersaing memperebutkan pelanggan, para penjual kargo terpaksa memberikan diskon pada harga minyak di titik ekspor.

"Selisih harga harus ditekan serendah mungkin untuk menutupi beban biaya pengangkutan," kata Neil Crosby, kepala analisis minyak mentah di lembaga riset FGE NexantECA.

Situasi ini bisa berubah dengan cepat jika Trump kembali menargetkan Republik Islam Iran, terutama jika infrastruktur energi di kawasan tersebut ikut terkena dampak. Sementara itu, pasar untuk bahan bakar olahan seperti diesel juga masih sangat terbatas.

Menipisnya persediaan membuat pasar menjadi rentan terhadap gangguan lebih lanjut dalam arus kargo.

Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), stok minyak di darat secara global telah menyusut ke tingkat terendah dalam setidaknya satu dekade terakhir, sementara pemerintah berbagai negara juga telah mengurangi cadangan strategis mereka ke level terendah sejak 1980-an.

(bbn)

No more pages