Logo Bloomberg Technoz

Prospek Damai Timteng Menguat, Minyak Anjlok Tajam Pekan Ini 

News
06 November 2026 07:50

Tangki penyimpanan minyak di kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez./Bloomberg-Andrey Rudakov
Tangki penyimpanan minyak di kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez./Bloomberg-Andrey Rudakov

Kanoko Matsuyama dan Lorelei Smillie - Bloomberg News

Bloomberg, Harga minyak berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak April setelah perdagangan berlangsung fluktuatif. Investor tengah mencermati peluang berakhirnya perang di Timur Tengah yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik dan diperdagangkan di kisaran US$91 per barel pada Jumat (6/11), melanjutkan pemulihan setelah anjlok tajam menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu AS. Meski demikian, harga minyak masih turun sekitar 12 persen sepanjang pekan ini. Harapan akan berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama sembilan bulan dalam waktu lebih cepat mulai muncul, tetapi perbedaan pandangan yang besar masih belum terselesaikan.


Teheran menginginkan pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, pelonggaran sanksi, serta pembebasan aset-aset yang dibekukan sebelum sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, The New York Times melaporkan bahwa Iran tengah meninjau proposal yang diajukan para mediator terkait program nuklirnya. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya diplomatik Qatar baru-baru ini untuk mencegah kembali pecahnya konflik militer secara penuh mulai membuahkan hasil.

Harga minyak mentah acuan global Brent mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Oktober setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran menyusul pemilihan paruh waktu. Untuk saat ini, Trump menunjukkan sikap menahan diri, sementara kendali Partai Demokrat atas kedua kamar Kongres AS berpotensi membatasi kemampuan pemerintahannya untuk melancarkan aksi militer lebih lanjut.