Logo Bloomberg Technoz

Kabar dari Amerika Serikat (AS) menjadi angin segar bagi harga emas. Partai Republik menang dalam Pemilu Sela, sehingga menjadi mayoritas di Kongres baik House of Representatives dan Senat.

Perubahan peta politik di Negeri Adikuasa berpotensi membuat kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump (dari Partai Republik) akan terganjal. Misalnya perang dengan Iran, yang membuat harga minyak dunia melesat.

Munculnya harapan eskalasi yang mereda di Timur Tengah membuat harga minyak melemah. Kini harga minyak jenis brent sudah di bawah level US$ 100/barel.

Jika berkelanjutan, maka ancaman inflasi bisa diredam. Dengan demikian, bank sentral di berbagai negara tidak perlu agresif dalam menaikkan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas jadi lebih menguntungkan saat suku bunga tidak naik.

“Untuk saat ini, investor akan memantau perkembangan nilai tukar dolar AS dan yield obligasi. Apabila aksi jual massal (sell-off) di pasar saham memburuk, maka ekspektasi kenaikan suku bunga akan tergerus dan ini akan suportif bagi emas,” tutur Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, seperti dikutip dari Bloomberg News.

(aji)

No more pages