Logo Bloomberg Technoz

Pasar keuangan global mengalami gejolak sepanjang pekan ini. Awalnya, investor bertaruh bahwa kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu dan penguasaan Kongres akan mempercepat berakhirnya perang Iran. Namun, pada saat yang sama, kekhawatiran meningkat terhadap kemungkinan regulasi yang lebih ketat bagi industri pusat data. Indeks yang mengukur kinerja produsen semikonduktor telah anjlok hampir 16% sepanjang pekan ini dan berada di jalur untuk mencatat kinerja mingguan terburuk sejak April tahun lalu.

Menurut Michael O’Rourke dari JonesTrading, perlambatan industri pusat data akibat pergeseran politik tersebut kemungkinan benar-benar terjadi. Ia menilai proyeksi laba yang menjadi landasan valuasi saham dan argumen optimistis investor kini tidak lagi dapat diandalkan.

“Investor sama sekali tidak tahu ke mana proyeksi tersebut akan disesuaikan,” katanya. “Akibatnya, mereka mengurangi eksposur terhadap risiko hingga situasi kembali jelas, dan kejelasan itu tampaknya masih membutuhkan waktu.”

Di Asia, produsen cip Korea Selatan Samsung Electronics Co dan SK Hynix Inc, serta Taiwan Semiconductor Manufacturing Co menjadi pihak yang paling terdampak aksi jual saham terkait AI. Sebaliknya, saham-saham Hong Kong menguat seiring investor mengalihkan dana dari saham-saham dalam rantai pasok AI ke saham perusahaan platform internet China yang dinilai masih murah.

Dari sisi ekonomi, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun di bawah seluruh perkiraan analis. Pada Jumat, investor akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga.

Gubernur Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan suku bunga perlu dipertahankan pada level ketat untuk membawa inflasi ke target bank sentral. Ia juga menilai penyesuaian kebijakan yang lebih sering dapat mengurangi risiko bank sentral tertinggal dalam merespons perkembangan ekonomi.

(bbn)

No more pages