Kondisi itu mencerminkan adanya pelemahan daya beli masyarakat di tengah tren inflasi. Meski begitu, dampaknya sebagian masih tertahan oleh stimulus kebijakan pemerintah yang membantu menyerap guncangan eksternal lewat skema subsidi, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM).
Selain itu, pertumbuhan konsumsi LNPRT secara tahunan/yoy juga termoderasi signifikan jadi 5,02% dari sebelumnya 6,93%. Pertumbuhan belanja pemerintah juga melambat jadi 8,95% yoy dari sebelumnya 15,97% yoy, membuat kontribusinya ikut melorot jadi 0,62 poin persentase dari 1,07.
Memasuki kuartal III-2026 ruang fiskal sepertinya kian terbatas. Agaknya pemerintah sedang menghadapi tantangan untuk bisa menyeimbangkan perannya sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga kapasitas fiskal sebagai penyangga guncangan eksternal.
Di balik angka yang termoderasi ini, faktor eksternal menjadi juru selamat pertumbuhan. Pertumbuhan ekspor menguat jadi 4,59% yoy dari 4,13%, sedangkan impor melambat jadi 7,31% yoy dari 8,82% yoy. Kombinasi kedua perkembangan itu membuat tekanan impor terhadap pertumbuhan ekonomi berkurang, meskipin ekspor neto (selisih antara ekspor dan impor) masih berkontribusi negatif, tetapi besarannya susut jadi 0,28 poin persentase, lebih kecil daripada 0,9 poin persentase di kuartal II-2026.
Prospek Ekonomi
Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang solid serta keterlibatan pemerintah yang lebih besar dalam mendorong aktivitas ekonomi.
"Keputusan pemerintah untuk menyerap kenaikan biaya energi global dengan mempertahankan harga BBM dan energi bersubsidi juga membantu melindungi rumah tangga dari inflasi impor, sehingga menopang daya beli domestik," sebut Faisal.
Meski begitu, ia menilai kebijakan ini hanya memberi keringananan ekonomi dalam jangka pendek. Sebab, intervensi yang berkepanjangan berpotensi menggerus fleksibilitas fiskal dan membatasi kemampuan pemerintah dalam merespons guncangan eksternal.
"Oleh karena itu, tantangannya adalah menjaga aktivitas ekonomi domestik tanpa mengorbankan keberlanjutan fiskal. Kami memperkirakan momentum pertumbuhan akan sedikit kehilangan tenaga pada kuartal IV-2026, meskipun pertumbuhan tahunan secara kuartalan diperkirakan tetap di atas 5%," kata Faisal.
Terpisah, Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai tantangan pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi dibayangi harga minyak yang mulai merambat ke berbagai rantai pasok, sementara fenomena El Nino menambah tekanan terhadap biaya pangan.
"Di sisi lain, kemampuan pemerintah untuk memberikan subsidi semakin terbatas oleh ketentuan batas defisit anggaran sebesar 3% terhadap PDB," sebut Henderson.
Ia menambahkan, kenaikan biaya hidup juga berpotensi mengurangi ruang masyarakat untuk melakukan pengeluaran yang bersifat non-prioritas (discretionary spending). Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi.
Bahkan pada paruh pertama tahun ini, belanja masyarakat juga lesu meskipun pemerintah memberikan dukungan besar, termasuk lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan memberi subsidi harga dan menahan laju inflasi tetap berada di kisaran target Bank Indonesia (BI) 1,5%-3,5%.
Henderson memperkirakan jika laju pertumbuhan ekonomi mampu terjaga hingga akhir 2026, "kemungkinan besar penopangnya berasal dari belanja pemerintah dan investasi publik, bukan dari percepatan konsumsi rumah tangga maupun investasi swasta," katanya.
(dsp/aji)


























