Selain itu, menjaga rutinitas sehari-hari juga penting untuk mempertahankan kondisi mental. Fifi menyarankan masyarakat untuk tetap memperhatikan waktu tidur, pola makan, dan aktivitas fisik. Rutinitas sederhana tersebut dapat memberikan rasa aman ketika keadaan di luar diri sedang tidak menentu.
"Ketiga, tetap terhubung dengan orang-orang terdekat dan saling menguatkan, bukan saling menambah kepanikan," kata dia.
Fifi juga mengingatkan masyarakat agar tidak terus-menerus mengonsumsi berita yang memicu kecemasan. Membatasi paparan informasi bukan berarti tidak peduli terhadap kondisi negara, melainkan salah satu cara menjaga kemampuan untuk tetap berempati dan berpikir jernih.
Menurutnya, paparan berulang terhadap berita mengenai krisis dan penderitaan dapat memicu compassion fatigue atau kelelahan emosional akibat terus-menerus menyerap persoalan orang lain. Kondisi ini bahkan dapat membuat seseorang merasa mati rasa terhadap berbagai peristiwa.
"Jadi, sikap apatis sering kali tidak muncul karena kita membatasi berita, melainkan karena kita terlalu banyak menyerapnya," ujarnya.
Fifi menyarankan masyarakat untuk menentukan waktu khusus untuk membaca berita, misalnya dua kali sehari selama 15–20 menit. Masyarakat juga sebaiknya menghindari membaca berita sesaat setelah bangun tidur maupun menjelang tidur, serta memilih sumber informasi yang kredibel.
Sementara itu, dosen sekaligus Psikolog Klinis Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka, M.Si., menilai kekecewaan masyarakat terhadap berbagai situasi yang berkembang merupakan respons manusiawi. Terlebih, ketika ketidakpuasan terhadap kondisi yang ada sudah menumpuk, informasi baru dapat lebih mudah memicu kemarahan dan kecemasan.
"Marah, cemas, dan kecewa dalam situasi seperti ini bukan tanda kita lemah, namun menjadi respons yang manusiawi terhadap keadaan yang memang mudah berubah atau tidak stabil," kata Putri saat dihubungi Bloomberg Technoz, Kamis (5/11).
Putri menilai menjaga kesehatan mental masyarakat idealnya tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Negara juga memiliki peran menghadirkan rasa aman melalui kepastian hukum, perlindungan ekonomi, penanganan bencana yang sigap, serta komunikasi publik yang menenangkan.
Namun, ketika situasi belum memberikan rasa aman, masyarakat perlu membangun dukungan sosial secara bersama-sama. Menurutnya, semangat gotong royong dan saling membantu dapat menjadi salah satu cara menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian.
"Tagline 'warga bantu warga' menjadi sangat relevan dalam kondisi ini. Kita mandiri bukan karena beban ini memang pantas kita pikul sendiri, melainkan karena keadaan memaksa, dan kita perlu untuk survive," ujarnya.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali batas kemampuan diri dalam menerima informasi. Dalam psikologi, terdapat konsep window of tolerance, yakni rentang kondisi ketika seseorang masih mampu berpikir jernih dan mengelola emosinya. Jika sudah melewati batas tersebut, seseorang dapat menjadi mudah panik, marah, atau justru merasa mati rasa.
"Artinya, mengikuti semua isu sekaligus bukan bentuk kepedulian yang lebih besar, melainkan sumber kelelahan. Kita perlu menyusun skala prioritas," kata Putri.
Menurut Putri, masyarakat sebaiknya lebih memprioritaskan informasi yang berdampak langsung terhadap kehidupan, pekerjaan, dan lingkungan sekitarnya. Sementara itu, isu lain yang tidak berkaitan langsung dapat diketahui seperlunya agar tidak menguras energi dan perhatian.
Lebih lanjut, Putri mendorong masyarakat untuk membangun jejaring positif untuk saling menguatkan, mulai dari berbagi informasi lowongan pekerjaan, bertukar pengalaman, hingga membantu orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan. Langkah tersebut dapat mengubah perasaan tidak berdaya menjadi tindakan yang lebih nyata.
"Jejaring seperti ini mengubah rasa tidak berdaya menjadi tindakan nyata," ujarnya.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai tekanan tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan persoalan sistemik terus berlangsung. Dukungan antarwarga memang penting, tetapi perbaikan kebijakan dan sistem tetap harus dilakukan.
"Warga bisa saling menguatkan, tetapi sistem tetap harus dibenahi," kata Putri.
Di sisi lain, Fifi mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri untuk selalu produktif ketika sedang menghadapi tekanan. Masyarakat dapat membagi aktivitas harian menjadi target-target kecil yang realistis dan menghargai pencapaian sederhana, termasuk tetap bekerja atau merawat keluarga di tengah situasi sulit.
Apabila kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu tidur, pekerjaan, maupun hubungan sosial, Fifi menyarankan masyarakat untuk mencari bantuan profesional. Masyarakat dapat mendatangi puskesmas terdekat atau berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater.
"Mencari bantuan seperti ini pun merupakan bentuk kepedulian pada diri sendiri," tuturnya.
(dec/spt)





























