"Perlambatan ini terjadi seiring upaya pemerintah menjaga defisit anggaran agar tetap berada dalam batas yang ditetapkan," sebut Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson.
Selain itu, harga minyak yang bertahan tinggi di atas asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 juga menambah beban bagi kinerja ekspor. Untuk diketahui, dalam asumsi APBN harga minyak dipatok US$70/barel. Namun, rata-rata sepanjang tahun ini sudah berada di US$90/barel.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sejalan dengan asumsi tersebut. Ekspor migas sepanjang Januari-September turun 9,11% jadi US$8,96 miliar. Sebaliknya impor migas justru naik 37,35% jadi US$32,57 miliar.
Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 2,49% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, dari defisit tahun lalu hanya 0,09%.
Ia memprediksi pada 2027 defisit ini juga akan tetap tinggi di kisaran 2,49% terhadap PDB, seiring ketidakpastian global yang kemungkinan masih berlangsung setidaknya hingga semester I-2027.
Di tengah tekanan itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih jadi penyangga utama perekonomian. Pada kuartal II-2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% yoy. Adanya dukungan subsidi pemerintah dan program perlindungan sosial diharapkan bisa menjaga daya beli masyarakat, terutama dari kelompok berpendapatan rendah dan menengah.
BPS dijadwalan merilis data pertumbuhan ekonomi periode kuartal II-2016 besok (5/11/2026). Pelaku pasar akan mencermati data yang menjadi ukuran seberapa kuat fondasi ekonomi domestik.
(dsp/aji)





























