Sementara, obligasi Jerman dan Italia naik masing-masing 3,8 bps, jadi 3,32% dan 4,46%. Yield aset obligasi Asia juga naik, seperti Jepang naik 1 bps jadi 2,76%, Korea Selatan naik 3,98%, dan obligasi China naik 0,1 bps ke 1,59%.
Dari sisi domestik, pasar akan mencermati prospek pertumbuhan ekonomi yang akan diumumkan besik. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4-5,5% year on year (yoy).
Namun versi Bloomberg, pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,2% tahun ini. Dengan rincian, 5,1% pada kuartal III-2026 dan 4,85% pada kuartal IV-2026.
Selain itu, investor juga mencermati risiko domestik yang bertambah setelah mencuatnya dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Faktor politik dan risiko tata kelola ini berpotensi meningkatkan premi risiko Indonesia dan membuat investor lebih berhati-hati.
Faktor ini berpotensi membuat premi risiko Indonesia diganjar lebih mahal oleh investor, menggenapi sentimen klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun bertahan di 104,37 pada awal November, setelah sempat berada di 92,64 pada Oktober. Naiknya CDS berarti investor meningkatkan nilai premi risiko dalam memegang aset Indonesia.
Hari ini, peregrakan rupiah berpotensi ke rentang Rp18.170/US$ yang merupakan support pertama, dengan target pelemahan kedua berharap tertahan di Rp18.200/US$.
(riset/aji)


























