Logo Bloomberg Technoz

Hasil jajak pendapat dan tren historis sama-sama mengunggulkan Partai Demokrat untuk merebut mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Sementara itu, persaingan untuk menguasai Senat masih lebih sulit diprediksi. Namun, pemilu semakin sulit diperkirakan dalam satu dekade terakhir sejak kemenangan Trump pada 2016, ketika ia berhasil mengalahkan prediksi jajak pendapat dan memenangkan kursi presiden.

Partai Demokrat semakin optimistis setelah sejumlah jajak pendapat menunjukkan mereka unggul. Partai Republik pun terpaksa mengerahkan waktu dan dana untuk mempertahankan kursi di negara-negara bagian yang biasanya menjadi basis kuat mereka, termasuk Kansas, Texas, Alaska, dan South Carolina.

Para pemilih menyampaikan keluhan mengenai kepemimpinan presiden, menurut The Voter Poll, survei komprehensif yang dilakukan Associated Press dan SSRS. Sekitar tiga perempat pemilih dalam pemilihan paruh waktu mengaku merasa "marah" atau "tidak puas" dengan arah negara di bawah kepemimpinan Trump. Sekitar enam dari 10 pemilih menilai tingginya harga lebih disebabkan oleh "kebijakan Trump" dibandingkan faktor-faktor di luar kendalinya.

Kontrak berjangka saham AS melemah dan dolar terdepresiasi setelah hasil awal serta pasar prediksi menunjukkan peluang kemenangan Partai Demokrat semakin besar. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kebuntuan politik di Washington.

Sebelum hasil pemilu diumumkan, Trump tampak mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar di Washington. Dalam wawancara dengan CBS News, ia mengatakan akan menjadi "Mr. Veto" dalam menghadapi Partai Demokrat jika partai tersebut berhasil menguasai mayoritas di DPR atau Senat. Ia juga mengklaim optimistis terhadap peluang partainya dan kemampuannya untuk terus menjalankan agendanya melalui kewenangan eksekutif.

Jika Partai Demokrat berhasil merebut bahkan satu kamar Kongres, hasil tersebut akan menjadi penolakan tegas terhadap presiden dan partainya, hanya dua tahun setelah Trump kembali ke Gedung Putih dengan kemenangan besar. Dalam kampanye 2024, Trump berjanji mengatasi inflasi dan menjaga AS agar tidak terlibat dalam konflik di luar negeri. Namun, berbagai survei menunjukkan banyak pemilih yang mendukungnya dalam pemilu terakhir kini menyesali pilihan mereka.

Untuk menguasai DPR, Partai Demokrat hanya perlu meraih tambahan bersih tiga kursi. Cook Political Report, lembaga pemantau politik nonpartisan, memproyeksikan Partai Demokrat dapat menambah 15 hingga 25 kursi di DPR.

Di Senat, Partai Demokrat harus merebut empat kursi yang saat ini dikuasai Partai Republik untuk memenangkan mayoritas. Hasil akhir kemungkinan baru akan diketahui dalam beberapa pekan, mengingat perbedaan aturan penghitungan suara melalui pos di setiap negara bagian serta proses penghitungan yang lebih lama di wilayah yang menerapkan sistem pemungutan suara berdasarkan peringkat pilihan.

Kekalahan Partai Republik akan membawa konsekuensi nyata bagi dua tahun terakhir masa jabatan Trump di Gedung Putih. Sejauh ini, presiden menikmati dukungan Kongres yang cenderung tidak banyak menentang kebijakannya. Kongres telah mengonfirmasi sejumlah calon anggota kabinet yang kontroversial, mengesahkan undang-undang pemotongan pajak andalannya, serta sebagian besar tidak berupaya membatasi kewenangannya dalam menetapkan tarif maupun melancarkan operasi militer terhadap Iran.

Jika kembali berkuasa di Washington, Partai Demokrat telah mengisyaratkan akan menyelidiki Trump dan sekutu-sekutunya. Kemungkinan tersebut telah berulang kali dikecam presiden selama beberapa bulan terakhir.

Trump dan Partai Demokrat juga akan dipaksa bekerja sama dalam sejumlah persoalan fiskal penting, termasuk pendanaan pemerintah dan upaya menaikkan batas utang negara.

Jika Partai Republik justru meraih hasil lebih baik dari perkiraan, hal itu dapat memberikan dorongan politik bagi Trump. Situasi tersebut serupa dengan ketika Presiden AS saat itu, Joe Biden, memanfaatkan hasil pemilihan paruh waktu 2022 yang lebih baik dari perkiraan bagi Partai Demokrat untuk mengklaim bahwa kepemimpinannya mendapat dukungan. Kala itu, Partai Demokrat berhasil menambah satu kursi di Senat dan kehilangan lebih sedikit kursi DPR dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Dalam sebulan menjelang Hari Pemilu, Trump menggelar lebih dari selusin kampanye, sebagian besar di wilayah-wilayah yang menjadi basis kuat Partai Republik. Ia mendesak para pendukungnya untuk datang memberikan suara seolah-olah dirinya juga tercantum dalam surat suara.

Namun, dengan tingkat persetujuannya yang berada di titik terendah, seruan Trump dinilai menjadi pedang bermata dua bagi banyak kandidat. Sejumlah politikus Partai Republik menyatakan ketidaknyamanan terhadap pesan penutup kampanye Trump yang tidak biasa, termasuk komentarnya mengenai proyek renovasi di Washington dan bentuk fisik Senator Ohio, Jon Husted.

Jajak pendapat New York Times/Siena University pada Oktober menemukan bahwa para pemilih yang kemungkinan besar akan memberikan suara lebih memercayai Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik dalam menangani berbagai persoalan, termasuk ekonomi, perang di luar negeri, dan imigrasi.

Sejumlah gugatan hukum telah diajukan dan lebih banyak perselisihan di pengadilan diperkirakan muncul jika hasil persaingan di sejumlah pemilihan penting berlangsung ketat. Departemen Kehakiman AS telah mengajukan banding atas keputusan hakim federal yang menolak gugatan untuk mencegah Alaska mengesahkan hasil pemilihan Senat sebelum pemungutan suara, jika kandidat Partai Republik kalah tipis.

Mahkamah Agung AS menolak upaya pemerintahan Trump untuk memaksa ribuan surat suara di California disisihkan berdasarkan tuduhan yang belum terbukti bahwa surat suara tersebut diberikan oleh warga negara asing. Dalam kasus terpisah, pengadilan banding AS mencabut putusan yang melarang Departemen Kehakiman mengancam pejabat pemilu tingkat negara bagian dan lokal dengan tuntutan pidana jika mereka menghitung surat suara yang dipersengketakan.

(bbn)

No more pages