Sebuah penerbangan Wizz dari Bergamo, Italia, menuju Sofia, Bulgaria, digeledah setibanya pada hari Selasa setelah otoritas Bulgaria menerima peringatan ancaman, ujar seorang juru bicara. Pada hari Senin, penerbangan dari Bandara London Luton ke Sofia juga dialihkan ke Budapest karena alasan yang sama dengan dikawal oleh jet tempur.
Sebuah penerbangan Ryanair dari Dublin yang membawa 185 penumpang diperiksa setelah mendarat di Sofia, ungkap kementerian transportasi Bulgaria. Setidaknya dua penerbangan Ryanair lainnya turut terdampak, di mana keduanya berhasil tiba di Italia tanpa insiden berarti, menurut Aeroporti di Roma SpA, pihak pengelola bandara di wilayah tersebut.
Pihak Ryanair tidak menanggapi permintaan komentar. BBC menayangkan video otoritas keamanan dan seekor anjing pelacak yang tengah memeriksa pesawat Ryanair berbeda yang mendarat di Murcia, Spanyol, setelah bertolak dari Manchester, Inggris.
Satu penerbangan SAS rute Kopenhagen menuju Warsawa juga menerima ancaman. Pesawat tersebut mendarat di Warsawa dan para penumpang segera diturunkan, sementara masalah ini kini tengah ditangani oleh kepolisian setempat, ungkap seorang juru bicara.
Layanan keamanan Polandia memeriksa dua pesawat dari London dan Kopenhagen setelah bandara-bandara di ibu kota negara tersebut menerima peringatan tentang potensi ancaman bom.
Bandara Warsawa-Modlin sempat ditutup sementara setelah pesawat dari London tersebut melakukan pendaratan darurat, tulis pihak bandara di situs webnya. Pesawat yang membawa 181 orang itu dievakuasi dan menjalani pemeriksaan keamanan, jelas LOT dalam sebuah surel. Bandara tersebut kini telah kembali beroperasi normal.
Rentetan ancaman bom ini muncul di tengah memanasnya ketegangan di seluruh benua Eropa. Berbagai supermarket di penjuru Eropa turut dilanda dugaan serangan siber yang memicu perubahan mendadak pada suhu lemari es dan pembeku (freezer) mereka pada hari Senin, mengulangi insiden serupa yang terjadi secara lebih luas di Prancis pada bulan lalu.
Kepala keamanan siber Inggris pada hari Selasa memperingatkan bahwa negaranya tengah menghadapi situasi yang dapat menjadi rekor lonjakan serangan siber yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa bulan ke depan. Ia pun mendesak para pelaku bisnis yang "sengaja menutup mata" agar mulai bersiap menghadapi risiko tersebut. Richard Horne menegaskan bahwa Inggris tengah berada di momen penentuan arah seiring dengan meningkatnya eskalasi ancaman dari Rusia, Iran, dan China.
(bbn)





























