Prancis Rusuh Akibat Biaya Hidup, Eropa Tingkatkan Kewaspadaan
News
19 October 2026 12:30

Gaspard Sebag - Bloomberg News
Bloomberg, Kekerasan yang mengguncang Prancis akhir pekan ini, ketika unjuk rasa terkait biaya hidup berubah menjadi aksi penjarahan dan pembakaran di berbagai wilayah, meningkatkan kewaspadaan di seluruh Eropa. Situasi ini menjadi perhatian menjelang pemilu yang akan digelar di setidaknya enam negara pada tahun depan.
Prancis memiliki sejarah panjang dalam demonstrasi jalanan. Namun, intensitas serangan terhadap gedung publik, toko, dan restoran memicu kekhawatiran akan terulangnya aksi serupa selama masa kampanye yang melibatkan kelompok sayap kiri ekstrem maupun sayap kanan ekstrem. Presiden Emmanuel Macron berjanji akan mengambil “langkah tegas”. Meski demikian, ketika menyampaikan pidato yang disiarkan televisi pada Minggu malam, ketegangan antara perusuh dan polisi di Paris masih berlangsung.
“Ini menunjukkan bahwa kekerasan ekstrem semacam ini bisa menjadi kejadian rutin,” kata Bernard Sananes, pimpinan lembaga jajak pendapat Elabe. Ia mengatakan, “tidak ada preseden” dalam sejarah belakangan ini mengenai kerusuhan sedramatis itu menjelang pemilihan presiden. Serikat pekerja juga telah menyerukan aksi mogok pada 5 November.
Pengeluaran untuk menjaga ketertiban bukan lagi pilihan yang mudah di tengah kekhawatiran yang semakin besar terhadap kondisi keuangan publik, yang telah mendorong biaya pinjaman Prancis melonjak. Majelis Nasional Prancis yang terpecah tajam mulai membahas rancangan anggaran 2027 pada pekan lalu. Rancangan tersebut mencakup langkah-langkah pengurangan defisit senilai sekitar €43 miliar (sekitar Rp866 triliun).





























