Meski pasar obligasi tertekan, pasar valuta Asia masih defensif. Mayoritas bergerak di zona hijau. Yen Jepang menguat paling tajam 0,25%, disusul dolar Singapura, yuan offshore. Sedangkan, yuan China, juga ringgit Malaysia dan won Korea Selatan menguat lebih terbatas.
Namun, posisi rupiah yang defensif di pasar offshore belum mencerminkan perbaikan sentimen pasar. Pagi ini, harga minyak turun ke US$103,6/barel, dengan rata-rata harga Brent setahun di kisaran US$90,98/barel. Mengingat angka dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipatok US$70/barel, posisi itu relatif tinggi bagi Indonesia dan berpotensi memperlebar defisit.
Meski begitu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara cukup optimis menilai stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan pada kuartal III-2026 tetap terjaga baik, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya hilang.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melihat bahwa tekanan kembali meningkat pada Oktober 2026, seiring dengan eskalasi konflik geopolitik meningkat dan membuat harga energi naik. Selain itu, kebijakan moneter global juga cenderung ketat, dengan situasi domestik yang tercermin dari mengetatnya likuiditas.
Di sisi lain, risiko domestik bertambah setelah mencuatnya dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Faktor politik dan risiko tata kelola ini berpotensi meningkatkan premi risiko Indonesia dan membuat investor lebih berhati-hati.
Faktor ini berpotensi membuat premi risiko Indonesia diganjar lebih mahal oleh investor, menggenapi sentimen klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun bertahan di 104,37 pada awal November, setelah sempat berada di 92,64 pada Oktober. Naiknya CDS berarti investor meningkatkan nilai premi risiko dalam memegang aset Indonesia.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), nilai tukar rupiah berisiko melemah. Target pelemahan menuju level Rp18.170/US$ yang merupakan support pertama, dengan target pelemahan kedua berharap tertahan di Rp18.200/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah mungkin saja melemah lebih lanjut hingga menuju level pesimistis Rp18.300/US$ yang merupakan level All Time Low baru.
Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat, maka resistance yang menarik dicermati ada di Rp18.100/US$ dan selanjutnya Rp18.000/US$ secara potensial.
(riset/aji)


























