Selain kenaikan suku bunga, tekanan di pasar keuangan global juga kata Suahasil berasal dari imbal hasil atau yield US Treasury yang masih tinggi. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS ke depan serta besarnya defisit anggaran pemerintah AS.
Akibatnya, situasi tersebut membuat preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih relatif terbatas. Sehingga, indeks dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.
"Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke emerging markets termasuk Indonesia dan perkembangan ini akan terus kita pantau dan kita mitigasi dampaknya," tegasnya.
Adapun di tengah tekanan tersebut, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% pada 2026.
Angka tersebut lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada 2025. IMF juga memperkirakan inflasi global meningkat menjadi 4,7%, mencerminkan tekanan harga yang masih membayangi perekonomian dunia.
(prc/ell)





























