Berdasarkan data Bloomberg, IHSG pada November 2025 tahun lalu memang mencatatkan kenaikan sebesar 4,22%. Tetapi, posisi tersebut berbalik dari yang terjadi pada November 2024, Indeks Komposit jatuh 6,07% hingga mencerminkan fluktuatif yang amat cepat.
IHSG Bak Roller Coaster dalam 10 Tahun
Data historis pada 2023 IHSG juga sempat mencatatkan penguatan 4,87%. Pergerakan yang optimis ini membalik keadaan dari November 2022 yang mencatatkan pelemahan 0,25%. Bersamaan dengan penurunan 0,87% pada November 2021.
Berseberangan jauh dengan itu, pada November 2020 kala itu IHSG melejit 9,44% terdorong apresiasi portofolio yang positif pada saham-saham big banks selepas konfirmasi rebound pasar saham. Peningkatan ini menjadikan tren bullish di bulan November yang paling tinggi dalam 10 tahun perdagangan.
Kala itu, IHSG tersengat sentimen arus modal asing (capital inflow), seusai meredanya kegelisahan resesi membuat investor asing berbondong-bondong kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Ditambah lagi, sentimen vaksin Covid-19 yang terbilang berhasil dengan efektivitas yang sangat tinggi, memicu optimisme pemulihan ekonomi global dengan cepat.
Sentimen Perdagangan Saham di November 2026
Untuk November 2026, sejumlah sentimen berpotensi memengaruhi IHSG selama satu bulan ke depan terutama rilisnya data inflasi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami inflasi 3,23% year–on–year/yoy pada Oktober 2026. Inflasi tersebut pun berhasil berada di rentang target Bank Indonesia (BI).
Realisasi inflasi ini lebih rendah dibanding proyeksi konsensus yang mengestimasikan inflasi Oktober 2026 akan berada di level 3,25% yoy. Angka itu juga lebih rendah ketimbang realisasi inflasi pada September sebelumnya yang sebesar 3,28% yoy.
Berdasarkan data BPS, IHK pada Oktober mengalami inflasi secara bulanan terhadap September 2026, yaitu 0,22%. Sementara itu, inflasi dalam perhitungan tahun kalender (year–to–date/ytd) tercatat sebesar 2,4%.
Selain inflasi, juga terdapat rilis data dari BPS, di mana surplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 berhasil menguat melampaui ekspektasi pasar dengan nilai surplus mencapai US$3,36 miliar.
Adapun torehan nilai surplus dagang RI ini jauh lebih tinggi dari estimasi dan konsensus para ekonom dan analis yang memprediksi neraca dagang di posisi US$1,82 miliar.
Terlebih berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia secara kumulatif pada periode Januari–September 2026 tercatat surplus US$10,61 miliar.
Agenda Penting di November 2026
Selanjutnya pada November 2026 ini akan terdapat agenda yang paling dinantikan investor, yaitu data pertumbuhan ekonomi Kuartal III-2026, disusul laporan cadangan devisa Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan juga pengumuman penjualan ritel (retail sales). Termasuk juga akan ada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait suku bunga acuan.
Adapun jika dibanding dengan regional, atau rekan-rekannya di Bursa Asia, mereka justru kompak melesat– dengan kenaikan optimistis, tercatat Straits Times Index Singapura melejit 3,18%, Hang Seng Index Hong Kong mencatat penguatan 3,01%, NIKKEI 225 menguat 2,68%, dengan Bursa Saham Korea Stock Exchange atau KOSPI menguat 2,11% pada data historis rata-rata perdagangan saham dalam 10 tahun.
Jika mencermati lebih lanjut, penguatan paling tinggi secara historis dilangsungkan oleh Bursa Saham Singapura, melesat mencapai 15,76% pada November 2020, efek langsung dari redanya kegelisahan pasar terhadap pandemi Covid-19 yang beriringan dengan prospek pemulihan ekonomi global yang masif, hingga menarik kembali arus modal institusi (net institutional inflow), jadi sentimen utama kala itu.
(fad)

























