Binance memulihkan akses pelanggan lebih cepat dari jadwal pada hari Minggu dan telah menggunakan campuran dari laba sendiri, serta dana darurat dan asuransi untuk mengganti kerugian pelanggan sepenuhnya.
Apa yang diperbuat Binance dalam menanggung dampak tersebut sejauh ini “sungguh luar biasa,” kata Karl-Martin Ahrend, co-founder Areta, firma konsultan yang berfokus pada aset digital. Beberapa arus keluar dana dan penyesuaian portofolio oleh para trader “sangat wajar,” katanya, namun dia tidak memperkirakan adanya dampak jangka panjang.
Pasar aset digital secara umum tetap relatif stabil pasca insiden tersebut. Bitcoin, yang menjadi barometer industri, tidak banyak berubah, diperdagangkan di sekitar US$77.830 pada Senin pagi waktu New York. Kepercayaan para trader terhadap Binance sebagian berasal dari penilaian bahwa neraca keuangannya cukup besar untuk menahan serangan peretasan sebesar ini.
Hingga Senin, Binance memiliki aset bernilai US$157 miliar, kata juru bicara perusahaan, mengutip perkiraan internal yang memperhitungkan dampak peretasan, penarikan dana setelahnya, dan fluktuasi harga.
Tidak semua penarikan tersebut berasal dari pelanggan, karena Binance juga telah mentransfer aset antar dompet, demikian yang sebelumnya disampaikan oleh Co-CEO Binance, Yi He.
Walau arus keluar bersih US$4,7 miliar merupakan angka yang besar, hal itu masih merupakan bagian kecil dari jangkauan keseluruhan Binance, menurut para ahli. Demikian pula, pencurian sebesar US$6,3 miliar dapat dianggap masih terkendali jika dilihat dalam konteksnya.
Pendapatan secara gross Binance tampaknya sekitar US$10 miliar hingga US$20 miliar per tahun, berdasarkan biaya dan volume yang dipublikasikan, serta pernyataan para eksekutif, kata Joshua Lim, salah satu kepala pasar di FalconX. “Meskipun kerugian ini merusak reputasi industri, kami yakin Binance memiliki kekuatan finansial untuk kembali beroperasi secara normal,” katanya.
Selain itu, sebagai platform likuiditas terbesar di dunia, para mitra perdagangan menyatakan bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain tetap bertransaksi di sana. Julia Zhou, presiden dan salah co-founder market maker kripto Caladan, menyorot aksi hacking terbesar kedua dalam sejarah kripto sebagai konteks. Tahun lalu, Bybit kehilangan sekitar US$1,5 miliar akibat serangan yang oleh Biro Investigasi Federal (FBI) dikaitkan dengan Korea Utara, sama seperti yang terjadi pada Binance.
Insiden Bybit tersebut diikuti oleh lonjakan penarikan dana, namun penarikan tersebut akhirnya stabil. “Dari perspektif market maker, kami juga mengamati arus bersih, apakah setoran kembali masuk, bagaimana likuiditas perdagangan dan kedalaman pasar bertahan, serta apakah dana berpindah ke platform lain. Pada akhirnya, ujian yang lebih besar adalah apakah Binance dapat mempertahankan kondisi perdagangan normal,” jelas Zhou.
Gelombang Kejahatan Siber
Pasar kripto secara umum telah menghadapi lonjakan kejahatan siber tahun ini, yang sebagian didorong oleh semakin canggihnya dan mudahnya akses terhadap alat-alat kecerdasan buatan.
Grup Korea Utara bernama “TraderTraitor,” yang dituduh FBI sebagai pelaku perampokan Binance, mungkin hanyalah salah satu contohnya.
Serangkaian peretasan ini telah mengungkap bahwa platform kripto utama — dan bahkan wallet perangkat, yang selama ini dianggap sebagai cara teraman untuk menyimpan token — ternyata tidak seaman yang diyakini pelanggan.
Ratusan juta dolar AS dihabiskan dari Bitget pada bulan September, setelah peretas mencuri lebih dari US$100 juta dalam bentuk Bitcoin dari dompet yang diamankan oleh perangkat fisik Coinkite Inc. Peretasan yang melibatkan perangkat Ledger serupa juga mengakibatkan kerugian jutaan dolar AS.
Pemegang kripto rata-rata “mungkin merasa sedikit terjebak,” kata Nick Smart, CIOdi platform analitik kripto Crystal Intelligence. Namun, “Binance tetap menjadi platform yang dominan meskipun terjadi arus keluar dana. Jadi, meskipun platform tersebut terguncang, kondisinya masih jauh dari kata hancur.”
(red)






























