Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia secara kumulatif pada periode Januari-September 2026 tercatat masih surplus US$10,61 miliar. Angka ini ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$34,21 miliar, sementara komoditas migas masih defisit US$23,6 miliar.

Sebelumnya, kinerja perdagangan Indonesia diperkirakan sedikit tertekan pada September. Pertumbuhan impor yang tetap terakselerasi belum dibarengi dengan performa ekspor yang diperkirakan masih akan melambat.

Berdasarkan konsensus Bloomberg terhadap 22 orang ekonom per 31 Oktober 2026, ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 6,67% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September. Sementara impor diperkirakan tumbuh jauh lebih tinggi mencapai 21% yoy. 

Perkiraan kinerja ekspor-impor tersebut berpotensi mengikis surplus neraca perdagangan. Survei Bloomberg memperkirakan neraca perdagangan September surplus US$1,82 miliar. Kontribusi neraca perdagangan terhadap penopang ketahanan eksternal pun sepertinya kian terbatas. Penerimaan devisa dari ekspor semakin tipis.

Untuk diketahui, ekspor Indonesia masih ditopang oleh sektor non-migas seperti minyak sawit mentah (CPO), besi dan baja, serta batu bara. Ekspor non-migas Agustus mencatat kenaikan sebesar 7,32% yoy, sedangkan ekspor migas terkontraksi 5,1%.

Pertumbuhan ekspor itu disebabkan adanya kenaikan harga komoditas global, bukan meningkatnya volume ekspor. Kinerja ekspor migas juga diperkirakan tetap lebih rendah lantaran Indonesia mulai memangkas sebagian ekspor gas alam, salah satunya ke Singapura.

Padahal, Singapura merupakan salah satu negara tujuan ekspor migas terbesar bagi Indonesia. Berdasarkan data BPS, pada Agustus nilai ekspor migas ke Singapura tercatat US$329,7 juta, setara dengan 33,23% dari total ekspor migas ke seluruh negara tujuan yang senilai US$992,16 juta. Sementara, ke China tercatat US$202,08 juta, dan ke Malaysia US$169,59 juta.

(lav)

No more pages