Di tengah belanja target pemerintah tetap berencana menggenjot belanja negara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, proyeksi penerimaan negara pada kuartal IV-2026 sulit tercapai.
Untuk diketahui, hingga September 2026, defisit sudah mencapai Rp319 triliun atau setara dengan 1,24% PDB. Sedangkan target penerimaan negara sebesar Rp813 triliun untuk kuartal IV-2026 masih jauh panggang dari api.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi jelang tutup tahun juga mengintai. Berdasarkan survei Bloomberg terbaru, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2026 diproyeksi tumbuh sebesar 4,85%.
Ahmad Mobeen dari S&P Global Market Intelligence mengatakan, tantangan terbesar ekonomi Indonesia bukan tertelak pada lemahnya potensi pertumbuhan, melainkan pada kemampuan pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor.
Ia menambahkan, meningkatnya sorotan terhadap arah dan efektivitas belanja pemerintah. Ditambah, tekanan eksternal yang semakin besar, berpotensi menguji ketahanan rupiah dan mempersempit ruang bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan juga semakin terbatas.
Sementara itu, pergerakan di pasar obligasi belum banyak menopang laju penguatan rupiah. Yield tenor 1 tahun terdongkrak naik 3,3 bps ke 6,98%. Meski yield 10 tahun tercatat turun 0,7 bps, tetapi posisinya bertahan tinggi di 7,62%. Begitu juga dengan tenor 5 tahun masih berada di kisaran 7,51%.
Adapun tenor panjang masih tertekan dengan kenaikan yield 10,1 bps ke 7,7% untuk tenor 16 tahun, dan 4,2 bps ke 7,71% untuk tenor 12 tahun.
Sebagai catatan, per 28 Oktober investor melepas kepemilikannya di pasar obligasi domestik senilai US$64,4 juta secara harian, dan US$25,2 juta secara mingguan.
(dsp/aji)






























