Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Beber Faktor yang Perlebar Defisit: Subsidi BBM-Restitusi

Redaksi
28 October 2026 14:00

Simulasi Postur APBN 2026 Setelah Perubahan Asumsi Makro (Bloomberg Technoz)
Simulasi Postur APBN 2026 Setelah Perubahan Asumsi Makro (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa sejumlah risiko berpotensi membuat pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara semakin lebar.

Yusuf mengingatkan bahwa outlook defisit sejak Juli sudah mencapai 2,85% PDB, lebih lebar dari target APBN 2026 sebesar 2,68% atau Rp689,1 triliun.  Dengan proyeksi akhir tahun sekitar 2,85%, maka ruang fiskal menuju batas 3% hanya sekitar 0,15% PDB atau kurang lebih Rp39 triliun.

“Tekanan terbesar berasal dari subsidi dan kompensasi energi karena harga minyak, nilai tukar, dan volume konsumsi bergerak bersamaan,” kata Yusuf kepada Bloomberg Technoz, Rabu (28/10/2026).


Ia membeberkan, saat ini rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) Januari hingga Oktober mencapai US$92 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70.

Pada saat yang sama, realisasi subsidi dan kompensasi hingga September sudah Rp376,8 triliun, meningkat 54,1% secara tahunan.