Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan informasi segmen operasi, nikel menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan laba usaha ANTM sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Pendapatan segmen nikel tercatat sebesar Rp16,98 triliun, meningkat 52,2% yoy dibandingkan dengan Rp11,15 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, laba usaha segmen tersebut melonjak 82,3% yoy menjadi Rp8,59 triliun dari Rp4,71 triliun.

Di sisi lain, segmen logam mulia dan pemurnian masih menjadi kontributor pendapatan terbesar perseroan. Segmen ini membukukan pendapatan sebesar Rp68,80 triliun, tumbuh 16,8% yoy dari Rp58,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, pertumbuhan laba usaha segmen logam mulia dan pemurnian relatif lebih moderat. Laba usaha segmen tersebut meningkat 15,4% yoy menjadi Rp4,41 triliun dari Rp3,82 triliun.

Perbedaan pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa meskipun emas masih mendominasi pendapatan ANTM, segmen nikel mencatatkan pertumbuhan laba usaha yang jauh lebih cepat. Laba usaha segmen nikel bahkan telah melampaui laba usaha segmen logam mulia dan pemurnian pada periode pelaporan.

Pendapatan Emas Masih Dominan

Berdasarkan rincian pendapatan berdasarkan produk, penjualan emas masih menjadi kontributor terbesar bagi ANTM. Pendapatan dari emas mencapai Rp68,41 triliun pada Januari-September 2026, naik dari Rp58,67 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, pendapatan dari bijih nikel meningkat menjadi Rp13,47 triliun dari Rp9,53 triliun. Pendapatan dari feronikel juga naik menjadi Rp3,51 triliun, dibandingkan Rp1,63 triliun pada Januari-September 2025.

Di luar kedua produk tersebut, pendapatan dari alumina tercatat sebesar Rp1,50 triliun, naik dari Rp1,36 triliun. Adapun pendapatan dari bijih bauksit meningkat menjadi Rp1,14 triliun dari Rp588,52 miliar.

Dari sisi neraca, persediaan ANTM mencapai Rp12,51 triliun per 30 September 2026, meningkat sekitar 61,9% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp7,73 triliun.

Perseroan juga mencatatkan belanja modal sebesar Rp513,69 miliar, naik dari Rp261,34 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, kas dan setara kas mencapai Rp10,54 triliun per akhir September 2026, dibandingkan Rp8,43 triliun pada akhir Desember 2025.

(dhf)

No more pages