Logo Bloomberg Technoz

Logam tanah jarang termasuk salah satu bahan baku paling krusial di dunia.

Material ini menjadi komponen vital dalam berbagai teknologi yang menopang kehidupan modern, termasuk dalam sejumlah aplikasi pertahanan penting.

Meskipun China telah lama mendominasi sektor penambangan dan pemrosesan logam tanah jarang, negara-negara lain—termasuk Malaysia—kini tengah meningkatkan upaya untuk membangun kapasitas mandiri guna mengurangi ketergantungan pada Beijing.

Saat ini, Malaysia menjadi lokasi operasional bagi perusahaan Australia, Lynas Rare Earths Ltd.—satu dari hanya dua produsen besar di luar China. Selain itu, sejumlah konglomerat lokal, seperti Berjaya Corp Bhd., juga tengah menjajaki berbagai proyek di sektor ini.

Perusahaan asing lainnya, Carester SAS asal Prancis, berencana membangun pabrik pemisahan logam tanah jarang di negara bagian Perak, Malaysia, bekerja sama dengan Malaco Mining Group.

Lebih dari belasan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) juga tengah menjajaki peluang investasi di negara tersebut.

Awal bulan ini, Malaysia menerbitkan pedoman untuk ekspor bersyarat logam tanah jarang mentah, yang melonggarkan moratorium yang sebelumnya berlaku.

Berdasarkan kerangka kerja yang telah direvisi ini, pengiriman material yang belum diolah dapat diizinkan untuk keperluan penelitian, pengembangan, atau pemrosesan, dengan memenuhi ketentuan-ketentuan tertentu.

"Pedoman ini terbuka bagi pemohon yang memenuhi syarat, termasuk perusahaan asing, sepanjang mematuhi ketentuan regulasi yang berlaku," jelas pihak kementerian.

Kementerian tersebut menambahkan bahwa prioritas utamanya bukanlah jumlah permohonan yang disetujui, melainkan kualitas investasi, transfer teknologi, serta penciptaan nilai jangka panjang.

(bbn)

No more pages