Dengan demikian, akumulasi posisi asing sepanjang 2026 adalah net sell Rp 92,1 triliun.
Adapun valuasi IHSG dari pendekatan Price to Earnings Ratio (PER) adalah 11,7 kali. Lalu dari pendekatan Price to Book Value (PBV) adalah 1,4 kali.
Berikut sejumlah saham yang menjadi top movers IHSG pada perdagangan kemarin:
-
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 36,82 poin.
-
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 34,6 poin.
-
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyumbang 26,7 poin
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyumbang 26,3 poin
-
PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 15 poin.
Sementara saham-saham yang menjadi top laggards antara lain:
-
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 6,55 poin.
-
PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) mengurangi 4,36 poin.
-
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mengurangi 2,17 poin.
-
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengurangi 1,62 poin.
-
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 1,33 poin.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi IHSG untuk hari ini, Rabu (21/10/2026)? Apakah masih kuat menanjak atau malah terdepak?
Secara teknikal dengan perspektif harian, IHSG masih tersangkut di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 29.
RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Bahkan kalau di bawah 30 maka artinya tergolong jenuh jual (oversold).
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 16. Di bawah 20, yang berarti juga oversold.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG sepertinya memiliki target support terdekat di 5.155. Jika tertembus, maka ada risiko untuk menguji 5.142-5.037.
Waspadai pivot point di 4.972. Penembusan di titik ini bisa saja memangkas IHSG menuju target paling pesimistis di 4.826.
Andai IHSG bisa menguat lagi, maka 5.453 rasanya menjadi resisten terdekat. Target selanjutnya ada di 5.740.
(aji)





























