AirAsia menegaskan seluruh alternatif tersebut masih dalam tahap pembahasan dan evaluasi. Perseroan juga tidak menutup kemungkinan menjalankan alternatif lain yang dinilai sesuai untuk memperbaiki posisi ekuitas negatif dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut menjadi penting karena posisi keuangan AirAsia masih dibebani defisiensi modal yang besar.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat negatif Rp12,19 triliun per 30 Juni 2026.
Secara keseluruhan, total ekuitas atau defisiensi modal perseroan mencapai negatif Rp12,18 triliun, sementara total liabilitas mencapai Rp16,91 triliun. Adapun total aset AirAsia hanya Rp4,73 triliun.
Tekanan juga terlihat pada likuiditas. Total liabilitas jangka pendek mencapai Rp12,38 triliun, jauh di atas aset lancar yang hanya Rp571,20 miliar.
Liabilitas jangka pendek tersebut terutama berasal dari utang usaha Rp2,59 triliun, utang lain-lain pihak berelasi Rp6,64 triliun, serta liabilitas sewa Rp1,40 triliun.
Dari sisi kinerja, pendapatan usaha AirAsia pada semester I 2026 tercatat Rp3,91 triliun, turun 1,79% dibandingkan Rp3,98 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, tekanan biaya membuat rugi usaha membengkak menjadi Rp922,27 miliar, dari Rp529,47 miliar pada semester I 2025. Rugi periode berjalan juga meningkat menjadi Rp1,45 triliun, dari Rp785,84 miliar.
Kenaikan beban bahan bakar menjadi salah satu penekan kinerja. Beban bahan bakar AirAsia mencapai Rp1,99 triliun, naik 26,1% dibandingkan Rp1,58 triliun pada semester I 2025.
Selain itu, perseroan mencatat rugi selisih kurs dari kegiatan operasional sebesar Rp447,95 miliar, melonjak dari Rp28,89 miliar setahun sebelumnya. Rugi selisih kurs dari aktivitas pendanaan juga mencapai Rp322,84 miliar, dibandingkan Rp28,43 miliar pada semester I 2025.
Kondisi AirAsia tersebut memiliki kemiripan dengan persoalan yang sebelumnya dihadapi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Garuda dalam dokumen restrukturisasinya juga mencatat ekuitas negatif sebagai salah satu hambatan pemulihan dan menyebut rencana rights issue sebagai bagian dari upaya memperbaiki struktur permodalan.
Garuda sebelumnya telah merealisasikan penerbitan saham baru melalui HMETD senilai sekitar Rp7,8 triliun serta PMTHMETD untuk konversi utang senilai sekitar Rp5,05 triliun sebagai bagian dari proses restrukturisasi.
(fik/naw)





























