Ekspektasi itu membuat indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama masih bertahan tinggi 101,04, meski sedikit terpangkas. Posisi dolar AS membuat mata uang Asia hari ini bergerak di zona merah.
Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam. Disusul baht Thailand 0,43%, dolar Taiwan 0,29%, rupee India 0,18%, dan won Korea Selatan 0,15%. Sementara, yuan melemah lebih terbatas.
Tak banyak mata uang Asia yang menguat, hanya ringgit Malaysia, dolar Singapura dan yen Jepang.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulis mengatakan, BI berupaya intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forwards (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, pelemahan rupiah juga tersengat oleh sikap Bank Indonesia (BI) yang mengirim sinyal pro-pertumbuhan, alih-alih menegaskan bahwa stabilitas rupiah merupakan prioritas utama. BI mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin.
"Sikap BI yang pro-pertumbuhan semakin diwujudkan melalui kebijakan likuiditas, dengan frekuensi lelang SRBI yang lebih rendah telah menurunkan posisi outstanding menjadi Rp1.037 triliun," ujar Jessica Tasijawa, Fixed Income Analyst Mirae Asset, dalam catatannya.
Di saat yang sama, revisi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk meningkatkan intermediasi sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 13,65% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus.
Terpisah, Citi memperkirakan BI akan menghentikan pemangkasan yield SRBI, usai mempertahankan BI Rate kemarin. BI dalam paparannya kemarin mengatakan bahwa kurva operasi pasar terbuka akan dikelola sejalan dengan BI Rate.
"Kami menafsirkan hal ini sebagai sinyal bahwa pemangkasan yield SRBI akan dihentikan," kata Helmi Arman, Kepala Ekonom Citibank, dalam catatannya.
Sebelumnya, Citi memperkirakan BI akan memangkas yield SRBI sebesar 25 bps hingga Oktober, yang akan membawa total pemangkasan menjadi 100 bps dari puncaknya sebesar 7,7% pada kuartal II-2026.
Sinyal tersebut semakin menegaskan BI kini mengandalkan instrumen likuiditas dan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara suku bunga kebijakan dipertahankan sebagai penyangga terakhir.
Jika pemangkasan yield SRBI benar-benar terwujud, maka arah kebijakan BI akan mengarah pada fokus menjaga daya tarik aset rupiah sambil tetap mempertahankan likuiditas agar intermediasi perbankan tidak terganggu.
(dsp/aji)





























