Dari sisi penjualan, AMMN melaporkan penjualan konsentrat tembaga sepanjang semester I-2026 mencapai 72 juta ton dengan harga jual bruto sekitar US$6,8 per pon.
Penjualan konsentrat emas sepanjang semester I-2026 mencapai 120.667 ons, dengan harga jual bruto US$4.864 per ons.
Dari sisi peleburan dan pemurnian, penjualan katoda tembaga sepanjang semester I-2026 mencapai 48.654 ton atau naik 163% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 18.522 ton.
Penjualan emas murni pada semester I-2026 mencapai 65.544 ons dengan harga jual bersih US$4.746 per ons.
Glencore menjadi pembeli terbesar AMMN dengan kontribusi mencapai 61,1% dari total penjualan atau sebesar US$1,25 miliar.
Selain Glencore, penjualan kepada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam mencapai 15,1% atau US$310,11 juta dan PT Marubeni Indonesia sebesar 11,3% atau US$231,85 juta.
Secara produk, penjualan domestik AMMN berasal dari katoda tembaga sebesar US$430,71 juta dan emas murni US$311,06 juta.
Sementara itu, penjualan ekspor mencapai US$1,31 miliar, yang terdiri dari penjualan konsentrat tembaga, emas, serta katoda tembaga.
Direktur Utama Amman Mineral Arief Sidarto mengungkapkan sepanjang semester I-2026 perseroan mengekspor 120.079 metrik ton kering konsentrat tembaga yang mengandung sekitar 72 juta pon tembaga dan 120.667 ons emas.
Pada saat yang sama, perseroan juga meningkatkan kapasitas produksi smelter sehingga pada Juli—Agustus 2026 tingkat input konsentrat di smelter perseroan mencapai kapasitas desain.
“H1 2026 menandai kemajuan yang signifikan bagi AMMAN, dengan pertumbuhan produksi yang kuat di seluruh kegiatan operasi terintegrasi kami. Kinerja ini didukung oleh peningkatan penambangan bijih segar serta kadar bijih yang lebih tinggi,” kata Arief dalam laporan keuangan semester I-2026 AMMN.
Dengan kinerja produksi dan penjualan tersebut, AMMN mencatat laba bersih US$497,93 juta atau Rp8,89 triliun (asumsi kurs Rp17.857 per dolar AS) pada semester I-2026.
Torehan laba bersih itu membalik posisi rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang minus US$148,72 juta atau rugi Rp2,48 triliun (asumsi kurs Rp16.667 per dolar AS).
Torehan laba bersih itu ditopang oleh kenaikan penjualan bersih AMMN menjadi US$2,05 miliar atau Rp36,61 triliun pada semester I-2026.
Posisi penjualan itu terbang dari torehan penjualan pada semester I-2025 sekitar US$182,60 juta atau Rp3,04 triliun pada semester I-2025.
Sementara itu, laba kotor tercatat US$964,15 juta atau Rp17,22 triliun, naik dari periode yang sama pada tahun lalu senilai US$55,7 juta atau Rp928,3 miliar.
(azr/wdh)




























