“Cara kita bekerja saat ini belum sepenuhnya dioptimalkan untuk pengalaman menggunakan laptop,” kata Samat dalam sebuah wawancara menjelang pengumuman tersebut.
“Kami melihat orang-orang mulai bekerja di ponsel, lalu beralih ke laptop, dan sebaliknya,” sambut Samat, sambil menyoroti kurangnya keselarasan antar-aplikasi di berbagai platform.
“Kami ingin merancang ulang laptop untuk kebutuhan saat ini dan cara orang-orang akan menggunakannya di masa depan.”
Setidaknya pada awalnya, lanjut dia, masuk akal untuk menargetkan penggemar Android.
“Kami memutuskan memulai dengan komunitas Android kami, di mana kami melihat adanya kesenjangan,” kata Samat. “Jika seseorang memiliki perangkat Android, pertanyaannya adalah: Laptop apa yang tepat untuk cara Anda bekerja saat ini?”
Googlebooks, yang pertama kali diumumkan awal tahun ini, dilengkapi layar sentuh berukuran 13 hingga 15 inci dan menjanjikan daya tahan baterai hingga 14 jam. Saat diluncurkan, perangkat ini akan ditenagai oleh prosesor Intel Corp. Core Ultra Series 3 atau chip Qualcomm Inc. Snapdragon X, dengan chip MediaTek Inc. yang akan tersedia di masa mendatang. Perangkat dirancang agar tipis dan portabel, dengan beberapa model hanya berbobot kurang dari 1.000 gram.
Perangkat ini sudah dapat dipesan terlebih dahulu mulai Senin, dengan pengiriman di AS dimulai pada 4 Oktober. Perangkat ini akan mulai dijual keesokan harinya di Kanada, Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, dan Australia.
Perusahaan teknologi konsumen lainnya telah mengeksplorasi konsep serupa. Microsoft Corp., pembuat Windows, dan Qualcomm telah lebih dulu selama bertahun-tahun mempromosikan jenis komputer baru yang dikenal sebagai “AI PCs”, yang mengintegrasikan asisten Copilot milik Microsoft dan juga menjanjikan fitur AI yang tertanam secara mendalam.
Googlebook Punya Target Berbeda dari MacBook Neo
Apple Inc. pada awal tahun ini meluncurkan MacBook Neo, yang mendapat kinerja penjualan baik, seperti banyak produk baru perusahaan tersebut, menawarkan akses bawaan ke asisten AI Siri yang baru dan ditingkatkan. Meskipun harganya baru-baru ini naik, Neo yang kini dibanderol US$699 masih lebih murah daripada Googlebooks.
Ini bukanlah upaya pertama raksasa mesin pencari tersebut dalam memasuki segmen laptop premium. Pada tahun 2017, Google meluncurkan Pixelbook seharga US$999 yang dijual di bawah merek Google, namun menghentikan produksi lini tersebut pada tahun 2022. Dengan peluncuran Googlebook, perusahaan ini kembali mencoba peruntungannya di pasar laptop premium.
“Kami memandang ini sebagai segmen pasar yang berbeda,” kata Samat saat ditanya mengenai posisi Googlebook dibandingkan dengan MacBook Neo. Orang-orang yang memiliki ponsel premium seperti Galaxy S26 dari Samsung Electronics Co. atau Pixel 11 Pro dari Google “menginginkan laptop yang sama ramping, premium, dan mumpuni seperti ponsel mereka,” papar Samat, sambil mengutip kualitas rakitan sistem tersebut serta standar Google terkait ukuran trackpad, chip, dan alokasi memori minimum.
Samat memperkirakan peluncuran ini akan memicu minat dari produsen laptop lainnya. “Seiring meningkatnya antusiasme masyarakat, akan ada lebih banyak produsen yang memproduksi Googlebook. Akan ada banyak pemain berbeda yang ingin ikut serta,” ucap dia, kemudian Samat yakini pula bahwa di masa depan mungkin akan ada model-model dengan spesifikasi yang lebih mumpuni.
Sistem operasi Googlebook memiliki beberapa kemiripan yang jelas dengan Android, dengan widget desktop yang sudah terpasang atau dapat disesuaikan, daftar aplikasi mirip Android, dan pengaturan drop-down.
Pada saat yang sama, sistem ini menggabungkan elemen-elemen ChromeOS, perangkat lunak yang mendasari Chromebook, sebuah kelas laptop terjangkau yang kini sudah umum digunakan di ruang kelas. Perangkat lunak Googlebook akan menerima pembaruan fitur secara berkala selama 10 tahun, kata Google.
Bedah sistem operasi di Googlebook terbaru:
Menjalankan aplikasi ponsel di laptop:
Pengguna Mac dan iPhone telah lama dapat dengan mudah beralih antara ponsel dan komputer mereka untuk berbagai tugas. Yang membedakan Googlebook dari PC AI yang ada saat ini adalah kemampuan sinkronisasi yang memungkinkan pengguna memulai suatu aktivitas di Android dan melanjutkannya di laptop, atau sebaliknya.
Pengguna lantas dapat menjalankan aplikasi dan game tertentu dari ponsel Android mereka di laptop, serta mengakses file dan foto ponsel di laptop. Google mengatakan ingin pada akhirnya mengembangkan kemampuan serupa yang menghubungkan Googlebook dengan iPhone, namun hal itu akan membutuhkan waktu.
Pencarian berkas berbasis AI:
Pada laptop ini menggunakan model AI Gemini Nano v3 berukuran kecil yang merangkum berkas dan foto di perangkat sehingga pengguna dapat mencari berkas lebih cepat menggunakan kata kunci dan deskripsi. Model ini berjalan “di perangkat”. Hal ini berarti proses meringkas file dan permintaan pencarian file tidak akan diproses melalui internet untuk menjamin privasi.
Kesadaran kontekstual:
Pengguna dapat meminta chatbot Gemini menjawab pertanyaan yang ada di layar mereka dengan bantuan fitur baru bernama Magic Pointer. Fitur ini, yang diaktifkan dengan menggerakkan kursor, menggunakan model AI di perangkat untuk memahami teks dan komponen yang berbeda di layar, serta memberikan saran kueri berdasarkan apa yang ditunjuk oleh kursor. Setelah pengguna mengirimkan prompt, jendela obrolan Gemini akan terbuka untuk memberikan respons melalui internet.
Semua sistem baru ini dilengkapi dengan langganan Google AI Pro gratis selama satu tahun, yang biasanya berharga US$19,99 per bulan dan mencakup akses yang diperluas ke alat-alat Gemini, penyimpanan cloud sebesar 5 terabyte (5TB) , serta akses ke asisten AI Spark dari Google. Perangkat-perangkat tersebut juga mencakup langganan YouTube Premium selama tiga bulan, serta akses ke Adobe Photoshop dan CapCut, kata Google.
Melalui Googlebook, Google ingin menemukan cara memanfaatkan AI pada laptop yang melampaui sekadar gimmick. “Saat ini, orang-orang merasa bahwa fitur-fitur AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi belum ada yang berhasil menerapkannya dengan tepat pada laptop,” kata Samat.
“Fitur-fitur tersebut belum benar-benar ada atau justru mengganggu, dan hanya sekadar AI demi AI itu sendiri. Kami memiliki fitur-fitur yang ingin kami hadirkan saat Anda membutuhkannya, dan tidak ada saat Anda tidak membutuhkannya.”
(bbn)































