Logo Bloomberg Technoz

"Hal ini sangat bergantung pada kondisi Selat Hormuz terkait unit-unit produksi tambahan yang akan datang, karena penundaan bisa terjadi jika kami tidak bisa mendatangkan fasilitas-fasilitas yang diperlukan," ujarnya.

Proyek North Field South—tahap kedua dari proyek tersebut—dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2028, kata Al-Kaabi.

Linimasa ini memperkuat ekspektasi bahwa penutupan hampir total Selat Hormuz akibat konflik Iran mengancam akan memperketat pasokan LNG global selama bertahun-tahun, karena ekspansi Qatar merupakan bagian dari gelombang pasokan baru dalam jumlah besar yang akan membanjiri pasar pada dekade ini.

Gangguan telah menghambat pasokan bahan bakar dari Qatar—eksportir terbesar kedua di dunia—sehingga harga spot melonjak ke level tertinggi sejak 2022 di Asia dan Eropa. 

Namun, Al-Kaabi menegaskan Selat Hormuz tidak akan pernah usang, sambil menambahkan bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent "keliru" saat mengatakan jalur perairan tersebut tidak akan lagi berharga dalam dua tahun.

Dia juga mengatakan Qatar saat ini tidak berencana membangun pipa baru untuk menghindari Selat Hormuz.

Gangguan tersebut telah mengguncang perekonomian Qatar, mengingat pendapatan dari gas alam hampir lenyap dan negara tersebut tidak memiliki jalur pelayaran alternatif untuk menghindari selat tersebut.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Qatar diperkirakan akan mengalami kontraksi ekonomi lebih dari 8% pada tahun ini.

Menteri tersebut menyatakan fasilitas Ras Laffan milik Qatar—memproduksi hampir seperlima pasokan LNG dunia sebelum perang pecah pada Februari—akan kembali mengoperasikan bagian fasilitas yang tidak rusak "dalam beberapa minggu" setelah Selat Hormuz dibuka kembali.

Serangan terhadap Ras Laffan pada masa awal perang—yang dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran—merusak sekitar 17% fasilitas tersebut, yang akan memakan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Qatar saat ini hanya mengekspor LNG dalam jumlah sangat kecil melalui Selat Hormuz, kata Al-Kaabi. 

Sementara itu, negara tersebut sedang berupaya menjadi pedagang LNG berskala lebih besar dan menangani lebih banyak LNG di luar kawasan Teluk Persia seiring dimulainya operasional fasilitas ekspor Golden Pass miliknya di AS.

"Dalam waktu dekat, kami akan menjadi pedagang LNG terbesar di dunia, jauh melampaui yang lain," kata Al-Kaabi. "Dan kami sedang memperkuat posisi kami untuk menjadi pedagang terbesar."

Fasilitas Pearl GTL milik Shell Plc di Qatar, yang juga rusak akibat serangan pada Maret, akan kembali berproduksi pada kuartal pertama tahun depan, katanya.

Pemerintah Negara Qatar merupakan penjamin penyelenggaraan Qatar Economic Forum, yang didukung oleh Bloomberg.

(bbn)

No more pages