“Sekarang teknologinya itu sudah canggih di mana batu bara yang low calorie itu bisa menghasilkan gas maupun minyak. Nah, tetapi ini kan kita akan menindaklanjuti terus apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden,” tambahnya.
Menurut Bahlil, dengan memproduksi bahan bakar sendiri di dalam negeri, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor serta menekan keluarnya devisa negara.
Likuifaksi Batu Bara
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan teknologi konversi batu bara menjadi bahan bakar cair (coal to liquid) alias likuifaksi batu bara (coal liquefaction) sebenarnya bukan hal baru di dunia.
Dia mencontohkan penggunaan teknologi tersebut oleh Jerman Timur pada masa peperangan dahulu untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan tempur karena keterbatasan sumber daya minyak bumi.
“Kalau di dunia ini, dimulai coal to liquid itu sudah lama. Bahkan di Jerman itu pada saat Jerman Timur, mereka kan enggak ada sumber minyak, mereka mengubah yang batu bara menjadi minyak untuk tank,” jelas Tri.
Selain itu, Tri menyebutkan keberhasilan perusahaan Sasol di Afrika Selatan yang mampu memproduksi sekitar 300.000 barel minyak per hari dari batu bara sejak masa sanksi politik apartheid.
“Afrika Selatan, dahulu dia kena politik apartheid, terus di-ban oleh negara-negara lain, maka dia mencairkan batu bara Sasol itu sampai sekarang kira-kira 300.000 barel per hari,” katanya.
Meski begitu, mengenai rencana eksekusi di Indonesia, dia menyatakan bahwa pihak kementeriannya masih mengevaluasi sejumlah penyedia teknologi dari berbagai negara dan belum merinci total potensi volume hasil konversi tersebut dalam hitungan barel.
“Nanti beberapa sedang dievaluasi lah,” katanya.
Sebelumnya, bencana pengolahan batu bara menjadi bensin tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya pada acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Langkah ini digagas sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menekan impor BBM nasional.
Dalam acara tersebut, Prabowo awalnya menjelaskan bahwa para akademisi dan profesor di dalam negeri telah berhasil mengolah minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi bahan bakar.
Keberhasilan tersebut ditandai dengan diterapkannya kebijakan mandatori biodiesel dengan campuran minyak kelapa sawit sebesar 50% (B50).
"Profesor dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan nanti kita juga akan bikin bensin dari batu bara," tutur Prabowo.
Prabowo menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal untuk kebutuhan energi nasional merupakan sebuah keniscayaan.
Dia juga menyoroti keberhasilan Indonesia dalam menghentikan impor solar berkat penerapan program B50.
"Kita juga mulai 1 Juli [2026] lalu kita tidak impor solar dari luar negeri. Solar kita sekarang sudah mandiri. Dan hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya. Alhamdulillah kita sudah bisa produksi solar kita sendiri," kata Prabowo.
(wdh)




























