Sementara itu, kenaikan harga di Sulawesi diperkirakan mencapai 24,5% ketika krisis terjadi dan 37,7% saat pasokan makin sulit didapatkan.
Dia membandingkan kenaikan harga keekonomian BBM secara nasional diperkirakan mencapai 22,6% jika krisis BBM terjadi dan 34,6% jika krisis pasokan bensin global kian parah.
“Kalimantan dan Jawa yang punya kilang dan tangki lebih besar relatif lebih tahan,” ungkap Yayan.
Yayan menyebut setiap tambahan satu pekan cadangan BBM dapat menahan sebagian kenaikan harga.
Untuk itu, penguatan cadangan penyangga dinilai penting, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan pasokan.
Proyeksi Harga
Bagaimanapun, Yayan memprediksi krisis bensin dunia bisa mengkerek harga keekonomian Pertamax ke level Rp18.500/liter dan Pertalite bisa naik ke sekitar Rp16.550/liter.
Dia menyatakan kenaikan harga keekonomian dua produk BBM tersebut bisa terjadi karena Indonesia mengimpor BBM cukup besar.
Walhasil, ketika pasokan BBM di pasar ketat dan harganya melonjak, harga keekonomian BBM RI rawan ikut naik.
“Bensin kini menjadi titik paling rawan dalam impor BBM kita. Pada 2025, nilai impor bensin mencapai sekitar US$10,8 miliar, jauh lebih besar daripada solar US$3,4 miliar. Jadi ketika kilang di Asia memangkas ekspor, Indonesia yang paling terpapar justru pada bensin,” tegas dia.
Harga bensin diperkirakan terus menguat seiring dengan meluasnya kondisi pasokan yang ketat di pasar bahan bakar global, menurut Goldman Sachs Group Inc.
Goldman juga mengubah rekomendasi perdagangannya dari solar (diesel) ke bensin, yang notabene adalah bahan bakar kendaraan populer tersebut.
"Alasan utama di balik rekomendasi baru ini adalah langkah kilang minyak yang mengalihkan produksi dari bensin ke solar, sehingga memperketat pasokan di pasar bensin dengan cepat," ungkap para analis, termasuk Yulia Zhestkova Grigsby dan Daan Struyven, dalam sebuah catatan.
Pasar bahan bakar global mengalami tekanan tahun ini akibat dampak gabungan dari konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta perang antara Rusia dan Ukraina, di mana Kyiv terus menggempur kilang-kilang minyak Moskwa.
Di AS, harga kontrak berjangka solar telah ditutup pada rekor tertinggi, dan rata-rata harga eceran bahan bakar tersebut melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa, karena kenaikan harga produk jadi jauh melampaui kenaikan harga minyak mentah.
Meskipun harga solar mungkin masih bisa naik lebih lanjut, bensin kini menawarkan "peluang kenaikan harga yang lebih besar," kata para analis dalam laporan tertanggal 16 September tersebut, dengan alasan antara lain permintaan yang lebih tangguh dan perubahan relatif pada tingkat persediaan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kiloliter (kl) solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini. Sementara itu, solar CN 48 atau kualitas rendah diklaim tak lagi diimpor Indonesia.
Selain itu, pada 2026 Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.
"Catatan: pada 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600.000 kl solar CN51, 1 juta kl avtur, dan 3,6 juta kl produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98,'' sebagaimana tertulis dalam materi paparan Yuliot di EBTKE Connect, Rabu (2/9/2026).
Sepanjang tahun ini, Kementerian ESDM memprediksi kebutuhan bensin nasional mencapai 38,1 juta kl. Dari besaran tersebut, sekitar 23,83 juta kl didapatkan dari hasil impor dan 14,27 juta kl dari produksi domestik.
Berdasarkan data Kementerian ESDM per Juni 2025, sepanjang Januari–Juni 2026 impor bensin Indonesia mencapai 61,73% dari kebutuhan nasional.
Kementerian ESDM mencatat sekitar 62% impor BBM Indonesia berasal dari Singapura, kemudian 35% impor BBM berasal dari Malaysia, sementara sisanya sebagian besar dari negara ASEAN.
Sekadar informasi, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kiloliter.
Anggota komite BPH Migas Fathul Nugroho menjelaskan, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kiloliter di antaranya merupakan milik PT Pertamina (Persero), smentara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kiloliter dimiliki non-Pertamina.
Berikut 5 provinsi yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM terbesar:
- Jawa Timur sebesar 1,15 juta kiloliter
- Jawa Barat sebesar 950.000 kiloliter
- DKI Jakarta sebesar 910.000 kiloliter
- Kepulauan Riau sebesar 890.000 kiloliter
- Banten sebesar 770.000 kiloliter
(wdh)





























