Jadwal pemulihan pipa Timur-Barat dan volume minyak yang dapat diangkut untuk ekspor menjadi sorotan para trader. Jalur ini pernah menjadi jalur vital selama perang Iran, saat Arab Saudi menggunakannya untuk menghindari Selat Hormuz yang mengalami gangguan parah.
Penghentian operasional pekan lalu mengancam ekspor jutaan barel per hari di tengah tingginya permintaan pasar, di mana harga minyak mentah di London di atas US$107 per barel.
Menyusul penutupan tersebut, Aramco telah meningkatkan penjualan minyak dari luar Selat Hormuz untuk menutupi sebagian volume yang hilang, seperti dilaporkan Bloomberg sebelumnya.
Perusahaan telah menjual sekitar 20 juta barel kepada kilang-kilang Asia, termasuk China, pekan ini, yang dapat diambil pada September dan Oktober, menurut para trader yang mengetahui informasi ini.
Namun, pelanggan Eropa menghadapi penundaan pengiriman, yang memicu lonjakan harga minyak mentah regional. Setidaknya satu perusahaan penyulingan Eropa, Orlen SA dari Polandia, telah membeli jutaan barel kargo pengganti dari sumber lain akibat gangguan pasokan dari Arab Saudi, ungkap para trader kepada Bloomberg.
Jalur pipa Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer yang membentang melintasi Semenanjung Arab ditutup pada Kamis setelah serangan drone yang dilancarkan oleh milisi di Irak.
Bulan ini, Arab Saudi juga menghadapi serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi dan sipil di pesisir barat Laut Merah oleh Houthi yang berbasis di Yaman. Kelompok yang didukung Iran tersebut telah mengancam pelayaran Arab Saudi di Laut Merah, yang turut mendorong harga minyak di London hingga melampaui US$100 per barel pada awal bulan ini.
Namun, penutupan jalur pipa tersebut merupakan pukulan telak bagi pasar minyak. Arab Saudi sempat mengoperasikan jalur pipa berkapasitas 7 juta barel per hari itu secara maksimal pada awal tahun ini, setelah lalu lintas di Selat Hormuz hampir lumpuh akibat serangan Iran terhadap sejumlah kapal.
Meski ekspor minyak kerajaan tersebut merosot hingga hanya sekitar 3 juta barel per hari pada Agustus—angka terendah setidaknya dalam sembilan tahun terakhir—pengiriman melalui Yanbu, titik akhir jalur pipa Timur-Barat, tetap mencakup sebagian besar volume penjualan.
Jalur pipa Timur-Barat ini sebelumnya pernah diserang selama perang. Stasiun pompa menjadi sasaran pada April sebagai bagian dari gelombang serangan terhadap fasilitas produksi, kilang, dan petrokimia.
Saat itu, pihak-pihak yang mengetahui menyatakan bahwa kerusakan pada jalur pipa hanya bersifat terbatas dan aliran minyak tetap berjalan. Pasokan pun kembali ke tingkat normal dalam hitungan hari.
(bbn)































