Logo Bloomberg Technoz

Menuangkan minuman sendiri sebenarnya tidak menjadi masalah ketika seseorang sedang sendirian. Namun, situasinya berbeda ketika sedang menikmati minuman bersama orang lain.

Dalam budaya Jepang, orang yang makan atau minum bersama biasanya saling menuangkan minuman. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian dan penghormatan kepada orang lain.

Karena itu, ketika berada dalam jamuan bersama, traveler sebaiknya tidak langsung menuangkan minuman ke gelas sendiri. Perhatikan gelas orang lain dan biarkan mereka saling menuangkan minuman.

  1. Menggunakan Sumpit untuk Berbagi Makanan

Sumpit menjadi bagian penting dalam budaya makan di Jepang. Namun, penggunaannya memiliki sejumlah tata krama yang perlu diperhatikan wisatawan.

Salah satunya adalah tidak menggunakan sumpit untuk memindahkan makanan langsung ke sumpit orang lain. Kebiasaan tersebut dianggap tidak sopan karena berkaitan dengan ritual pemakaman di Jepang.

Selain itu, jangan menancapkan sumpit secara tegak lurus di atas semangkuk nasi. Posisi tersebut menyerupai kebiasaan dalam ritual pemakaman sehingga sebaiknya dihindari.

Ketika tidak sedang digunakan, letakkan sumpit pada tempat yang telah disediakan. Dengan begitu, traveler dapat tetap mengikuti etika makan yang berlaku.

  1. Memberikan Tip kepada Pelayan

Memberikan tip setelah makan atau mendapatkan pelayanan merupakan kebiasaan yang umum di sejumlah negara. Namun, sistem tersebut bukan bagian dari budaya pelayanan yang lazim di Jepang.

Wisatawan tidak perlu merasa harus meninggalkan uang tambahan setelah makan di restoran. Dalam sejumlah situasi, uang tip yang diberikan bahkan dapat dikembalikan oleh petugas.

Karena itu, cukup membayar sesuai tagihan yang tertera. Traveler tetap dapat menunjukkan apresiasi melalui ucapan terima kasih tanpa harus memberikan tip.

  1. Menuangkan Kecap Asin ke Nasi

Traveler yang terbiasa menambahkan kecap asin ke nasi perlu memperhatikan kebiasaan makan di Jepang. Menuangkan kecap asin secara langsung ke nasi bukan cara yang umum dilakukan.

Nasi Jepang biasanya dinikmati bersama lauk dan hidangan pendamping tanpa perlu dituangi kecap asin. Karena itu, wisatawan sebaiknya mengikuti cara penyajian makanan yang diberikan.

Jika ingin menambahkan bumbu tertentu, perhatikan terlebih dahulu bagaimana makanan tersebut biasanya disantap oleh masyarakat setempat. Hal ini juga menjadi salah satu cara sederhana untuk menghargai budaya kuliner Jepang.

Etika Sehari-hari yang Perlu Diperhatikan Traveler

Selain aturan saat makan, sejumlah kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan selama berada di Jepang. Hal-hal kecil seperti penggunaan sepatu, cara berbicara, hingga kebiasaan saat mengantre dapat menunjukkan bagaimana seseorang menghormati lingkungan sekitar.

  1. Menggunakan Sepatu di Dalam Rumah

Melepas sepatu sebelum memasuki rumah merupakan kebiasaan yang sangat umum di Jepang. Traveler perlu memperhatikan aturan ini terutama ketika mengunjungi rumah penduduk.

Kebiasaan melepas alas kaki juga dapat berlaku di tempat tertentu, seperti penginapan tradisional Jepang, tempat suci, serta area yang menggunakan tatami.

Biasanya terdapat area khusus untuk meletakkan sepatu sebelum masuk. Jika melihat orang lain melepas sepatu, wisatawan sebaiknya mengikuti kebiasaan tersebut.

  1. Berbicara Terlalu Keras di Tempat Umum

Berbicara dengan suara keras di tempat umum dapat dianggap mengganggu orang lain di Jepang. Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika menggunakan transportasi umum.

Traveler sebaiknya menjaga volume suara saat berbicara dengan teman maupun ketika menerima telepon. Suasana di transportasi umum Jepang umumnya cenderung tenang.

Jika perlu berkomunikasi selama perjalanan, gunakan suara pelan. Mengirim pesan melalui ponsel juga dapat menjadi pilihan ketika tidak ingin mengganggu penumpang lain.

  1. Mengusap Hidung di Tempat Umum

Kebiasaan mengusap atau membersihkan hidung di ruang publik juga sebaiknya dihindari. Dalam norma sosial Jepang, tindakan tersebut dapat dianggap kurang sopan.

Jika perlu membersihkan hidung, traveler disarankan mencari toilet atau tempat yang lebih privat. Hal serupa juga berlaku ketika bersin, sehingga sebaiknya tidak dilakukan dengan suara keras di tengah keramaian.

Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memahami norma kecil seperti ini dapat membantu wisatawan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

  1. Masuk ke Bak Mandi Sebelum Membersihkan Diri

Penggunaan bak mandi di Jepang memiliki aturan kebersihan yang berbeda dari kebiasaan mandi sehari-hari di banyak negara. Air di dalam bak umumnya digunakan bersama, sehingga kebersihan air harus dijaga.

Karena itu, seseorang perlu membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum masuk ke bak mandi. Jangan langsung masuk ke dalam bak dalam kondisi tubuh belum bersih.

Traveler juga sebaiknya tidak mengubah suhu air dengan menuangkan air dingin hanya karena merasa terlalu panas. Ikuti aturan yang berlaku di tempat mandi yang dikunjungi.

Etika tersebut menjadi semakin penting ketika menggunakan pemandian bersama, termasuk fasilitas tradisional yang memungkinkan beberapa orang menggunakan air dari bak yang sama.

  1. Menunjuk Orang dengan Jari

Menunjuk seseorang menggunakan jari dapat dianggap kurang sopan dalam budaya Jepang. Hal tersebut termasuk ketika traveler sedang mencoba menunjukkan seseorang kepada teman.

Sebagai gantinya, gunakan gerakan tangan yang lebih halus ketika perlu menunjuk arah atau seseorang. Gesture yang lebih sopan dapat membantu menghindari kesalahpahaman selama berkomunikasi.

Menunjuk diri sendiri dengan jari memiliki konteks yang berbeda dan tidak dianggap sebagai masalah yang sama. Namun, saat berinteraksi dengan orang lain, sebaiknya tetap menggunakan gestur yang lebih sopan.

  1. Menyerobot Antrean

Budaya mengantre menjadi salah satu kebiasaan yang sangat diperhatikan di Jepang. Masyarakat umumnya mengikuti urutan ketika menunggu transportasi, memasuki tempat tertentu, maupun mendapatkan layanan.

Traveler karena itu perlu mengikuti posisi antrean dan tidak mengambil giliran orang lain. Menyerobot antrean dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak menghargai orang-orang yang sudah menunggu lebih dahulu.

Jika tidak mengetahui posisi antrean, perhatikan tanda atau kebiasaan orang-orang di sekitar. Mengikuti aturan setempat merupakan cara sederhana untuk menjaga ketertiban.

Berbagai pantangan tersebut menunjukkan bahwa etika di Jepang tidak hanya berkaitan dengan aturan formal. Kebiasaan sehari-hari dan cara memperlakukan orang lain juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat.

Bagi wisatawan, memahami kebiasaan tersebut dapat membantu perjalanan berjalan lebih nyaman. Traveler tidak harus menguasai seluruh budaya Jepang sebelum berangkat, tetapi mengetahui aturan dasar dapat mengurangi risiko melakukan tindakan yang dianggap tidak sopan.

Selain itu, wisatawan juga sebaiknya mengamati lingkungan sekitar. Ketika berada di tempat yang memiliki aturan khusus, perhatikan petunjuk yang tersedia dan ikuti kebiasaan masyarakat setempat.

Dengan memahami tata krama tersebut, perjalanan ke Jepang bukan hanya menjadi kesempatan untuk menikmati destinasi wisata. Traveler juga dapat memperoleh pengalaman mengenal budaya lokal dengan cara yang lebih menghargai masyarakat setempat.

Sepuluh hal tersebut dapat menjadi panduan sederhana sebelum berlibur ke Negeri Sakura, terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi Jepang. Memahami budaya setempat sejak awal akan membuat traveler lebih siap menghadapi perbedaan kebiasaan selama perjalanan.

(seo)

No more pages