Logo Bloomberg Technoz

Secara umum, terdapat lima metode yang dapat digunakan pelaku usaha untuk menentukan harga jual, yaitu:

  1. Cost-Plus Pricing, berdasarkan biaya dan margin keuntungan.

  2. Value-Based Pricing, berdasarkan nilai yang dirasakan pelanggan.

  3. Competition-Based Pricing, menggunakan harga pesaing sebagai acuan.

  4. Demand-Based atau Dynamic Pricing, menyesuaikan harga dengan permintaan.

  5. Target Profit Pricing, berangkat dari target laba yang ingin dicapai.

1. Cost-Plus Pricing Mengandalkan Perhitungan Biaya

Cost-Plus Pricing menjadi salah satu metode yang relatif sederhana untuk diterapkan, terutama bagi pelaku UMKM. Pendekatan ini dimulai dengan menghitung biaya yang menjadi dasar Harga Pokok Produksi atau HPP.

Setelah seluruh biaya dihitung, bisnis menambahkan margin keuntungan sesuai target yang ditetapkan. Secara sederhana, rumus yang digunakan adalah:

Harga Jual = HPP + (Margin Keuntungan × HPP)

Sebagai contoh, sebuah produk memiliki HPP sebesar Rp80.000. Jika bisnis menetapkan margin keuntungan sebesar 25 persen, perhitungannya menjadi:

Harga Jual = Rp80.000 + (25% × Rp80.000)

Harga Jual = Rp100.000

Metode ini membantu pelaku usaha memastikan biaya produk telah diperhitungkan sebelum menentukan keuntungan. Namun, ketepatan perhitungan HPP menjadi hal penting agar harga yang ditetapkan tidak terlalu rendah.

Dalam sumber, perhitungan biaya persediaan juga dikaitkan dengan PSAK 14 tentang Persediaan dari Ikatan Akuntan Indonesia. Komponen biaya tersebut mencakup biaya pembelian, biaya konversi, serta biaya lain sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.

2. Value-Based Pricing Melihat Nilai Produk

Tidak semua produk ditentukan harganya hanya berdasarkan biaya pembuatan. Produk dengan biaya produksi yang relatif sama dapat memiliki harga berbeda karena konsumen menilai manfaat dan nilai tambahnya secara berbeda.

Kondisi tersebut menjadi dasar Value-Based Pricing. Metode ini menetapkan harga berdasarkan seberapa besar nilai yang dirasakan pelanggan terhadap produk atau layanan yang ditawarkan.

Nilai tambahan tersebut dapat muncul dari berbagai aspek, seperti:

  • Kualitas produk yang lebih baik.

  • Desain yang lebih menarik.

  • Layanan yang lebih lengkap.

  • Fitur atau inovasi tertentu.

  • Reputasi dan kekuatan sebuah merek.

  • Manfaat yang sulit ditemukan pada produk lain.

Pendekatan ini dapat digunakan untuk produk premium, jasa profesional, produk inovatif, maupun bisnis yang telah memiliki reputasi kuat.

Meski demikian, harga yang lebih tinggi perlu disertai alasan yang dapat dirasakan konsumen. Jika pelanggan tidak menemukan perbedaan manfaat yang sepadan, harga premium berpotensi sulit diterima pasar.

3. Competition-Based Pricing Memperhatikan Harga Pesaing

Harga kompetitor juga dapat menjadi bahan pertimbangan ketika bisnis berada di pasar yang dipenuhi produk sejenis. Dalam metode Competition-Based Pricing, pelaku usaha melihat harga yang ditawarkan pesaing sebelum menentukan harga produknya sendiri.

Strategi yang dipilih dapat berbeda tergantung posisi bisnis di pasar. Pelaku usaha dapat menetapkan harga sedikit lebih rendah, relatif sama, atau lebih tinggi jika produknya memiliki keunggulan tertentu.

Harga lebih tinggi misalnya dapat dipertimbangkan ketika bisnis menawarkan kualitas, pelayanan, garansi, atau fitur yang berbeda dari kompetitor.

Metode ini banyak ditemukan pada berbagai jenis bisnis, termasuk toko online, marketplace, produk fashion, elektronik, hingga barang kebutuhan sehari-hari.

Namun, pelaku usaha tidak sebaiknya sekadar meniru harga kompetitor. Harga pesaing hanya menjadi salah satu pembanding karena bisnis tetap harus menghitung biaya sendiri dan memastikan adanya keuntungan.

Menjual dengan harga mengikuti kompetitor tanpa mengetahui biaya produksi justru dapat membuat bisnis mengalami margin terlalu tipis atau bahkan kerugian.

4. Demand-Based Pricing Mengikuti Perubahan Permintaan

Harga produk juga dapat berubah mengikuti kondisi permintaan. Pendekatan tersebut dikenal sebagai Demand-Based Pricing atau Dynamic Pricing.

Ketika permintaan meningkat, harga dapat disesuaikan menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, ketika permintaan menurun, bisnis dapat melakukan penyesuaian harga untuk mendorong transaksi.

Model seperti ini dapat ditemukan dalam berbagai sektor. Beberapa contohnya meliputi:

  • Tiket pesawat.

  • Kamar hotel.

  • Transportasi online.

  • Tiket acara.

  • Platform e-commerce dalam kondisi tertentu.

Perkembangan teknologi digital membuat bisnis dapat memantau perubahan permintaan dengan lebih cepat. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penyesuaian harga sesuai kondisi pasar.

Namun, penerapannya perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik pelanggan dan produk. Perubahan harga yang terlalu sering juga perlu dikelola dengan baik agar konsumen tetap memahami penawaran yang diberikan.

5. Target Profit Pricing Berangkat dari Sasaran Laba

Berbeda dari beberapa metode sebelumnya, Target Profit Pricing dimulai dari keuntungan yang ingin dicapai bisnis. Pelaku usaha terlebih dahulu menentukan target laba, kemudian menghitung harga dan jumlah penjualan yang diperlukan untuk mencapai sasaran tersebut.

Sebagai ilustrasi, sebuah bisnis menargetkan keuntungan Rp50 juta dalam satu bulan. Jika perusahaan memperkirakan dapat menjual 1.000 produk, maka setiap produk perlu memberikan kontribusi laba sekitar Rp50.000.

Perhitungan tersebut belum berarti biaya produksi dapat diabaikan. Biaya tetap dan biaya lainnya tetap harus dimasukkan agar target harga yang ditetapkan realistis.

Metode ini dapat digunakan oleh bisnis yang sudah memiliki sasaran penjualan dan keuntungan secara berkala. Pencatatan keuangan yang konsisten juga diperlukan agar pendapatan, biaya, dan laba dapat dihitung dengan tepat.

Dalam praktiknya, laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan dapat membantu bisnis memperoleh gambaran yang lebih terstruktur mengenai kondisi keuangannya.

Memilih Metode Sesuai Kondisi Bisnis

Tidak ada satu metode yang secara otomatis cocok untuk seluruh jenis bisnis. Pelaku usaha perlu melihat karakteristik produk, kondisi pasar, pelanggan, dan tujuan keuangan sebelum memilih pendekatan penetapan harga.

Pemilihan metode dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi berikut:

  • Cost-Plus Pricing: cocok ketika biaya produksi dan margin menjadi dasar utama penentuan harga.

  • Value-Based Pricing: dapat digunakan ketika produk mempunyai nilai tambah yang kuat bagi pelanggan.

  • Competition-Based Pricing: relevan untuk pasar dengan banyak produk sejenis dan tingkat persaingan tinggi.

  • Demand-Based Pricing: dapat dipertimbangkan ketika tingkat permintaan mudah berubah.

  • Target Profit Pricing: sesuai untuk bisnis yang telah memiliki sasaran laba tertentu.

Dalam praktiknya, bisnis juga tidak harus terpaku pada satu faktor. Biaya produksi, harga pesaing, nilai produk, permintaan, dan target keuntungan dapat dianalisis secara bersamaan sebelum harga akhir ditetapkan.

Pendekatan gabungan tersebut dapat membantu pelaku usaha melihat harga dari berbagai sisi. Dengan demikian, keputusan harga tidak hanya didasarkan pada satu angka atau satu kondisi pasar.

Transaksi Afiliasi Memiliki Pertimbangan Tambahan

Penentuan harga juga membutuhkan perhatian khusus ketika transaksi dilakukan dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa atau afiliasi. Kondisi tersebut berkaitan dengan penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha atau Arm's Length Principle dalam ketentuan transfer pricing.

Dalam transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa, harga perlu mempertimbangkan prinsip kewajaran sebagaimana transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak independen.

Hal ini menjadi salah satu aspek yang berbeda dari penentuan harga jual kepada konsumen umum. Perusahaan perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku ketika melakukan transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan afiliasi.

Pada akhirnya, menentukan harga jual bukan sekadar mencari angka yang membuat produk cepat terjual. Harga perlu mempertimbangkan kemampuan konsumen sekaligus kebutuhan bisnis untuk menutup biaya dan memperoleh keuntungan.

Pelaku usaha dapat memulai dengan menghitung biaya secara akurat, kemudian melihat kondisi persaingan dan nilai produk di mata pelanggan. Tingkat permintaan serta target keuntungan juga dapat menjadi pertimbangan berikutnya.

Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya, “Berapa harga produk ini di pasaran?” Pelaku usaha juga perlu mengetahui berapa biaya sebenarnya, seberapa besar nilai yang dirasakan konsumen, bagaimana posisi produk dibandingkan kompetitor, serta berapa keuntungan yang ingin dicapai.

Dengan perhitungan yang lebih menyeluruh, harga jual dapat ditetapkan secara lebih terarah. Strategi tersebut membantu bisnis menjaga keseimbangan antara daya tarik harga bagi pelanggan dan keberlanjutan keuntungan perusahaan.

Harga yang tepat pada akhirnya bukan hanya tentang membuat produk laku. Penetapan harga yang terukur dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kesehatan bisnis sekaligus menciptakan ruang bagi usaha untuk terus berkembang.

(seo)

No more pages