Logo Bloomberg Technoz

Analis Macquarie mengatakan pada Senin bahwa sekitar 7 juta barel minyak mentah dan bahan bakar olahan per hari melintasi Selat Hormuz, berdasarkan percakapan dengan klien. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang dimulai. Mereka menambahkan, hanya sejumlah kecil pemilik kapal yang bersedia melintasi Hormuz dengan imbalan harga yang tepat, sehingga memungkinkan volume minyak dalam jumlah besar tetap diangkut.

Kabar mengenai potensi kesepakatan Iran-Oman muncul setelah Iran pada akhir pekan mengklaim telah menyerang tiga kapal yang menggunakan jalur tanpa izin serta tiga kapal lain yang terkait dengan AS. Bloomberg belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen. Sejumlah pihak yang terlibat dalam pelayaran melalui selat itu juga mengatakan tidak melihat bukti adanya insiden besar akibat serangan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Militer AS sebelumnya menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak mentah Iran, dengan satu di antaranya hancur. Serangan itu dilakukan sebagai respons atas serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap dua kapal perang Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik.

Fasilitas minyak Saudi Aramco di Jazan, dekat Laut Merah, juga dilaporkan terkena serangan dan tingkat kerusakannya masih dalam penilaian, menurut Financial Times pada Senin yang mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Tangki penyimpanan di lokasi itu sebelumnya pernah menjadi sasaran kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.

Iran dan Oman tengah berupaya meresmikan kendali atas Selat Hormuz yang berbatasan dengan wilayah kedua negara. Keduanya juga kemungkinan akan mengenakan biaya layanan. Sementara itu, AS yang memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran untuk mencegah ekspor minyak dari Republik Islam tersebut menginginkan jalur perairan itu kembali ke status sebelum perang, yakni bebas digunakan.

Iran secara efektif menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari. Seluruh perundingan untuk menyelesaikan konflik sejauh ini belum membuahkan hasil dan hanya menghasilkan kebuntuan yang rapuh, disertai serangkaian serangan balasan secara berkala.

Perang yang kini memasuki bulan ketujuh telah mendorong kenaikan harga minyak, bahan bakar, dan gas alam serta mengancam memicu inflasi global. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri konflik tersebut, yang telah mendorong harga solar eceran di AS ke rekor tertinggi dan membuat Partai Republik terancam kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilihan paruh waktu pada November.

(bbn)

No more pages