Logo Bloomberg Technoz

Arah Rupiah Kala Harga Minyak Mahal dan Dolar AS Lemah

Tim Riset Bloomberg Technoz
08 September 2026 08:24

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penguatan rupiah di pasar spot hari ini berpotensi tertahan akibat kenaikan harga minyak Brent ke US$97/barel dan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati US$93/barel. Kenaikan harga minyak kembali terjadi setelah pelaku pasar mencermati rincian kesepakatan Iran dengan Oman untuk mengatur pelayaran di Selat Hormuz. 

Kedua negara ini sedang berupaya memformalkan pengaturan atas Selat Hormuz dan akan mengenakan biaya transit. Sementara Amerika Serikat (AS) menginginkan jalur perairan tersebut kembali ke kondisi sebelum perang sebagai jalur yang bebas dilalui kapal. 

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah masih stagnan di kisaran Rp17.696/US$. Tak lama berselang, rupiah offshore mendapat tenaga dengan menguat terbatas 0,06% ke Rp17.679/US$ pada 08:00 WIB. 


Stabilnya rupiah di pasar offshore menunjukkan pelaku pasar belum melakukan repricing terhadap risiko eksternal itu. Terlebih, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama melandai ke 98,84. 

Pergerakan rupiah di pasar NDF pada Selasa (8/9/2026). (Bloomberg)

Meredanya dolar AS membuat tekanan dari kenaikan harga minyak juga masih berhadapan dengan sentimen positif dari penguatan mayoritas mata uang Asia. Dari kawasan, won Korea Selatan menguat 0,44%, yen Jepang 0,4%, dolar Singapura 0,07%, ringgit Malaysia dan yuan offshore masing-masing 0,02%.