Logo Bloomberg Technoz

Di dalam magma terdapat gas-gas terlarut, termasuk SO₂. Saat magma bergerak naik menuju permukaan, tekanan di sekitarnya semakin berkurang, sehingga gas-gas yang terlarut di dalam magma dapat keluar. Saat erupsi eksplosif, gas tersebut dapat lepas dalam jumlah yang sangat besar bersama abu dan material vulkanik lainnya.

Jumlah SO₂ yang dilepaskan berbeda-beda pada setiap gunung dan setiap erupsi. Besarnya emisi dipengaruhi oleh komposisi magma, kandungan sulfur, volume magma yang mengalami erupsi, serta karakteristik letusannya.

Dampaknya pada Kualitas Udara

Salah satu dampak langsung SO₂ adalah penurunan kualitas udara di sekitar gunung api dan wilayah arah angin membawanya.

SO₂ dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, dan sistem pernapasan. Menurut USGS dalam laporan Volcanic Gases Can be Harmful to Health, Vegetation and Infrastructure, gas ini dapat mengiritasi kulit serta jaringan dan membran mukosa pada mata, hidung, dan tenggorokan.

"Emisi SO₂ dari gunung api juga dapat menyebabkan pencemaran udara di wilayah arah angin membawanya," sebut USGS.

Dalam kondisi tertentu, SO₂ berkontribusi terhadap terbentuknya vog. Kabut vulkanik ini bisa bertahan di wilayah yang jauh dari pusat erupsi apabila kondisi atmosfer dan arah angin memungkinkan penyebarannya.

Dampaknya terhadap kualitas udara sangat bergantung pada jumlah gas yang dilepas, kondisi cuaca, arah angin, topografi, dan jarak dari sumber erupsi.

Bahayanya bagi Kesehatan

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), SO₂ merupakan salah satu polutan udara yang penting diperhatikan dari sisi kesehatan masyarakat. Paparan polutan udara disebutkan bisa menimbulkan dampak kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, bergantung pada jenis polutan, konsentrasi, dan durasi paparannya.

Gas SO₂ sangat berbahaya bagi sistem pernapasan manusia. Pasalnya, saat terhirup, gas ini akan bereaksi dengan kelembapan di dalam saluran pernapasan dan membentuk asam sulfat yang berpotensi merusak jaringan paru-paru.

Paparan singkat SO₂ dapat memicu iritasi mata, tenggorokan gatal, batuk, dan sesak napas. Bagi penderita asma atau gangguan paru-paru kronis, hirupan gas ini bisa memperparah kondisi secara signifikan hingga berisiko fatal.

Secara fisik, gas SO₂ tidak berwarna tetapi memiliki bau menusuk yang sangat menyengat, miriip bau korek api kayu yang baru saja dinyalakan atau bau belerang yang terbakar.

Bau tajam ini biasanya langsung terasa di hidung dan tenggorokan, bahkan pada konsentrasi rendah di udara.

Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap gas ini dapat menurunkan fungsi paru-paru, memicu bronchitis kronis, dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Turut Bentuk Hujan Asam

SO₂ juga dapat berkontribusi terhadap pembentukan hujan asam. USGS menyebut bahwa emisi SO₂ dari gunung api dapat menyebabkan hujan asam dan pencemaran udara di wilayah yang berada di arah angin.

Setelah dilepaskan ke atmosfer, SO₂ dapat bereaksi dengan uap air pada awan sehingga menyebabkan air hujan bersifat asam. Oleh karena itu, masyarakat sangat dilarang untuk mengonsumsi air hujan tersebut. 

Dampaknya bisa berupa perubahan tingkat keasaman tanah dan perairan, gangguan terhadap tumbuhan dan ekosistem, kerusakan atau pelapukan material tertentu, dan perubahan kualitas air di wilayah yang terkena deposisi asam.

Bisa Dinginkan Suhu Bumi

Salah satu aspek paling penting dari SO₂ vulkanik ialah kemampuannya membentuk aerosol sulfat.

Aerosol merupakan partikel atau tetesan sangat kecil yang melayang di atmosfer. Ketika SO₂ dari letusan besar mencapai stratosfer, gas tersebut mengalami reaksi kimia dan menghasilkan aerosol yang terutama terdiri atas senyawa asam sulfat.

Aerosol sulfat dapat menyebar mengikuti sirkulasi atmosfer dan bertahan jauh lebih lama dibandingkan abu vulkanik berukuran besar. Karena ukurannya sangat kecil dan berada di stratosfer, aerosol tersebut tidak mudah tersapu oleh hujan.

USGS menjelaskan bahwa abu vulkanik yang masuk ke stratosfer umumnya jatuh kembali dalam hitungan hari hingga minggu dan memiliki pengaruh iklim yang relatif kecil. Sebaliknya, perubahan SO₂ menjadi aerosol sulfat memberikan pengaruh iklim yang jauh lebih besar.

Aerosol sulfat yang terbentuk dari SO₂ bisa memantulkan radiasi matahari kembali ke angkasa. Akibatnya, jumlah energi matahari yang mencapai permukaan bumi pun berkurang. Akibatnya, menyebabkan efek pendinginan sementara pada permukaan bumi.

NASA menjelaskan bahwa aerosol sulfat dari letusan gunung api bisa menghalangi sebagian sinar matahari dan menyebabkan pendinginan atmosfer serta permukaan bumi.

Namun, efek tersebut biasanya bersifat sementara, bukan perubahan iklim permanen. Lamanya efek bergantung pada jumlah SO₂ yang lepas, ketinggian injeksi ke atmosfer, karakteristik aerosol, dan sirkulasi atmosfer.

(ros)

No more pages