Logo Bloomberg Technoz

Pasar minyak mentah telah menghadapi tekanan berat pada 2026 akibat permusuhan di Timur Tengah serta konflik antara Rusia dan Ukraina.

Dengan menyusutnya cadangan minyak, datangnya musim dingin di Belahan Bumi Utara, dan meningkatnya kekhawatiran akan inflasi, semua isu tersebut—dan banyak lagi—akan menjadi agenda utama dalam Asia Pacific Petroleum Conference (APPEC) tahun ini yang diselenggarakan oleh S&P Global Energy.

Konferensi ini dimulai pada hari Selasa dan berlangsung hampir sepanjang minggu.

"Diskusi pastinya akan berpusat pada minimnya penyangga cadangan, kondisi pasar diesel yang sulit diatasi, lalu lintas di Selat Hormuz, serta konflik Timur Tengah dan Rusia-Ukraina," ujar Amrita Sen, pendiri sekaligus direktur Energy Aspects Ltd. dan seorang analis pasar senior yang akan menghadiri APPEC.

Singapura menjadi lokasi yang sangat tepat karena perannya sebagai pusat utama perdagangan minyak mentah di kawasan ini, sekaligus pusat utama untuk kegiatan penyulingan, pembiayaan, dan logistik.

Pembicara utama tahun ini antara lain Russell Hardy, pimpinan Vitol Group, serta perwakilan dari produsen Timur Tengah dan berbagai bank, termasuk Goldman Sachs Group Inc.

Acara utama akan berlangsung di pusat kota, namun akan dilengkapi dengan beragam pesta eksklusif dan meriah di luar jam konferensi resmi.

Negara-negara ekonomi Asia yang bergantung pada impor berada di tengah tekanan pasar energi yang sedang berlangsung, karena mereka adalah pihak yang paling rentan saat Iran memutus aliran energi melalui Selat Hormuz.

Blokade AS yang menyusul terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga telah menimbulkan gangguan, terutama bagi pembeli utama, yaitu China.

Dengan harga minyak Brent yang saat ini berada di atas US$97/barel dan lonjakan biaya pengangkutan, para peserta akan hadir di APPEC dengan perspektif yang sangat beragam.

Sementara para pedagang internasional, produsen non-Timur Tengah, dan perusahaan pelayaran menikmati keuntungan besar, situasinya jauh lebih menantang bagi para pembeli, khususnya di Asia.

Peringatan Goldman

Di tengah meningkatnya serangan, "peristiwa dalam beberapa hari terakhir mengindikasikan bahwa risiko meluas dan memburuknya gangguan pelayaran merupakan hal yang patut diwaspadai," ujar Daan Struyven dari Goldman—yang akan menjadi panelis di APPEC—kepada Bloomberg TV.

Bank tersebut melihat adanya potensi lonjakan harga hingga mencapai US$120/barel, meskipun hal itu bukan merupakan skenario dasar mereka, kata Struyven, yang menjabat sebagai kepala bersama riset komoditas global.

Hal yang akan dibahas oleh para delegasi adalah kondisi pasar yang masih terus berubah-ubah.

Pemerintahan Donald Trump berulang kali mengklaim bahwa volume minyak mentah yang lebih besar telah diam-diam diangkut melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir di bawah perlindungan AS. 

Kendati demikian, pasokan minyak alternatif—termasuk jenis ESPO dari Rusia, West Texas Intermediate (WTI) dari AS, dan minyak mentah dari Afrika—tetap banyak diminati dan harganya terus naik, didorong oleh minat dari India serta sejumlah pembeli di Eropa.

Selain sesi pleno dan berbagai pesta di rooftop yang sangat diminati, nilai utama APPEC terletak pada pertemuan-pertemuan di sela-sela acara antara pihak produsen dan pembeli.

Tahun ini, pemasok dari kawasan Teluk Persia seperti Irak dan Arab Saudi kemungkinan besar akan menghadapi negosiasi dengan pelanggan jangka panjang terkait pembatalan pengiriman dan pengalihan rute yang memakan biaya tinggi ke pelabuhan-pelabuhan yang jauh, serta pengaturan untuk pengiriman kargo tahun depan.

"Tahun ini bisa jadi akan mendefinisikan ulang penentuan harga pasar minyak serta hubungan antara produsen dan konsumen utama, mengingat arus pasokan melalui Selat Hormuz tampaknya tidak akan pernah kembali ke tingkat sebelum konflik terjadi," ujar Sen dari Energy Aspects.

Sejak pecahnya konflik, hubungan pasar dan struktur harga telah mengalami perubahan. Uni Emirat Arab mengambil langkah mengejutkan dengan keluar dari kartel OPEC.

Tak lama kemudian, Abu Dhabi National Oil Co. (Adnoc)—produsen utama negara tersebut—menerapkan metodologi penetapan harga baru yang berpotensi mengubah dinamika perdagangan di kawasan itu.

‘Faktor Terpenting’

Pada saat yang sama, besarnya permintaan minyak China—atau relatif rendahnya permintaan tersebut—juga akan menjadi faktor krusial bagi prospek keseimbangan pasar dan harga.

Pada bulan-bulan awal perang, Beijing mengurangi pembelian bulanan, yang turut menekan permintaan global dan mencegah harga bertahan lama di atas US$100/barel.

"Hal terpenting yang dipelajari selama enam bulan terakhir adalah kemampuan adaptasi pasar minyak, yang sebagian besar dimungkinkan berkat peran China," ujar Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING Groep NV.

"Seandainya China tidak menunjukkan kemampuannya sebagai pembeli penyeimbang (swing buyer), kondisi pasar akan sangat berbeda."

Di antara berbagai produk minyak, situasi terkait bahan bakar diesel diperkirakan akan menjadi topik pembahasan utama; larangan ekspor Rusia membatasi arus pasokan global, sementara lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz masih menghadapi kendala.

Sebagai gambaran ketatnya pasokan, harga jual eceran bahan bakar industri tersebut di Amerika Serikat telah melonjak hingga mencapai rekor tertinggi.

"Asia menghadapi tantangan berat untuk kembali ke kondisi normal dalam upayanya memulihkan jalur pasokan minyak," kata Patterson.

"Pasokan dari Timur Tengah kini memiliki risiko yang tak terelakkan, dan meskipun ada dorongan untuk melakukan diversifikasi, perusahaan penyulingan tetap kembali mengandalkan minyak dari kawasan Teluk Persia."

(bbn)

No more pages