Kondisi tersebut kata dia juga tercermin dari pertumbuhan kredit yang mulai lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK. Pada Juli 2026, kredit perbankan tumbuh 13,6% secara tahunan, sementara DPK hanya tumbuh 11,21%.
Destry mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan pola sebelumnya ketika pertumbuhan DPK umumnya berada di atas pertumbuhan kredit.
"Kita perhatikan siapa bank yang tumbuh lebih cepat, siapa yang DPK-nya menurun, kita lihat secara granular. kita lihat bank-bank mana yang likuiditasnya ketat dan yang terlalu banyak. Nanti kita akan ambil kebijakan," tegasnya.
Di sisi lain, Destry melihat pertumbuhan kredit saat ini masih banyak didorong oleh pembiayaan yang berkaitan dengan pemerintah atau state-led growth. Kendati begitu, kontribusi sektor swasta disebutnya juga mulai meningkat.
Menurutnya, salah satu mesin pertumbuhan baru berasal dari aktivitas pembiayaan yang berkaitan dengan Danantara, selain segmen pemerintah non-BUMN.
"Topiknya soal intermediasi dan likuiditas, ini dua hal yang berkorelasi. Soal likuiditas masih tersegmentasi, maka itu kita perlu kebijakan agar membuat ini merata. Kedua intermediasi sekarang masih state-lead di-drive oleh pemerintah dan iknb swasta danantara."
"Artinya kami di BI memahami problem ini maka kita perlu suatu kebijakan yang akhirnya targeted," pungkasnya.
Adapun pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi sebelumnya mencatat pertumbuhan kredit Himbara mencapai 16,19%, sementara kredit bank swasta tumbuh 11,19%.
(lav)





























