Logo Bloomberg Technoz

Harga Beras Mahal dan Langka, ke Mana Arah Swasembada?

Ibnu Affan
03 September 2026 14:17

Penerima Bantuan Pangan (PBP) membawa beras di Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Penerima Bantuan Pangan (PBP) membawa beras di Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga beras selama delapan bulan terakhir tercatat terus mengalami kenaikan, meski stok pemerintah di gudang milik Bulog diklaim jadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 September 2026, harga beras di tingkat penggilingan masih naik 1,32%. Begitu juga di tingkat grosir dan eceran yang masing-masing naik 0,80% dan 0,42%. Hal ini sekaligus menjadikan tren kenaikan harga beras sejak awal tahun.

"Ini adalah rekor. Rekor lain yang patut dicatat adalah selama delapan bulan beruntun pula harga beras selalu menjadi penyumbang inflasi," ujar Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dalam catatannya, dikutip Kamis (3/9/2026).


Khudori mengatakan, padahal, stok beras di Bulog saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton, sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Apalagi, pemerintah belakangan juga menyebut produksi beras nasional sangat melimpah dan telah mencapai swasembada.

Sejak awal tahun, beras selalu andil menjadi komoditas penyumbang inflasi. Per Agustus 2025, beras juga menjadi penyumbang inflasi kategori volatle food atau harga bergejolak selain daging ayam ras dan cabai rawit.