"Kalau kenaikan harga beras terjadi seminggu dua minggu, amat mungkin ada spekulan yang bermain-main untuk menangguk untung. Akan tetapi, kalau kenaikan harga berlangsung berbilang minggu dan bahkan berbulan-bulan, perlu diperiksa lebih teliti," tutur Khudori.
Salah Obat SPHP Atau Hal Lain?
Khudori lantas menyoroti efektivitas program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Per 31 Agustus, Bulog melaporkan penyaluran beras SPHP mencapai 731,23 ribu ton atau mendekati target yang dipatok sebesar 828 ribu ton.
Persoalannya, kata dia, adalah bukan semata-mata berapa banyak beras yang telah disalurkan, melainkan dari jalur mana dan dalam bentuk apa beras itu mengalir. Khudori mencatat, dari total itu, sebanyak 275,6 ribu ton atau 37,69% disalurkan lewat pelaksanaan gerakan pangan murah.
Sementara, sebanyak 171,1 ribu ton atau 23,4% disalurkan lewat rumah pangan kita; sebanyak 168,5 ribu ton melalui pengecer pasar rakyat. Lalu, penyaluran lewat ritel modern disalurkan sebesar 23,6 ribu ton atau 3,2%, sekaligus menjadi yang terendah.
"Kalau harga beras di pasar tetap naik, kemungkinannya ada empat: jumlah aliran kurang besar, BULOG "salah obat" jenis beras, salah tempat jualan, dan ada isu kualitas," kata Khudori.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras per hari ini, Rabu, juga mayoritas masih naik. Beras kualitas medium I dan II masing-masing naik 0,3% dan 0,31% menjadi Rp16.550 dan Rp16.350/kg.
(ain)

































