Logo Bloomberg Technoz

“Ya memengaruhi, tetapi untuk sekarang, surplus dunia masih meredam. Pada 2026, pasar nikel dunia diperkirakan kelebihan pasokan sekitar 261.000 ton. Jika dibandingkan dengan kehilangan [produksi dari] IMIP, neraca dunia masih surplus 65.000 ton. Artinya, pasar belum kekurangan,” kata Yayan ketika dihubungi, Kamis (3/9/2026).

Dia meyakini produk yang paling terdampak adalah produk olahan dari smelter berbasis hidrometalurgi berteknologi high pressure acid leach (HPAL) seperti MHP dan nikel sulfat, sebab produk tersebut membutuhkan air yang cukup besar.

Proyeksi Harga

Dia mencatat saat ini harga nikel di London Metal Exchange (LME) berada di kisaran US$16.610/ton dan dalam waktu dekat berpotensi naik sekitar 1,8% ke kisaran US$16.900/ton gegara penurunan produksi di IMIP.

Jika kondisi penurunan produksi terjadi secara ekstrem, Yayan yakin harga logam nikel di pasar lME bakal naik ke kisaran US$17.200/ton.

“Tekanan harga kecil justru karena surplus tadi. Kenaikan harga yang tajam baru mungkin terjadi bila kekeringan berlanjut lama, menyeret pasar ke desit , atau bila gangguan serupa muncul di kawasan lain,” tegas dia.

Adapun, harga kontrak berjangka nikel diperdagangkan US$16913 per ton di London Metal Exchange (LME) pada Kamis pagi, menguat 1,49% dari penutupan hari sebelumnya.

Sekadar catatan, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulawesi Tengah mencatat ekspor Sulawesi Tengah sepanjang 2025 mencapai US$ 22,32 miliar, tumbuh 5,14% dibandingkan dengan 2024 yang senilai US$ 21,22 miliar.

Kabupaten Morowali menjadi pusat aktivitas perdagangan luar negeri Sulteng. Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatat nilai ekspor gabungan sebesar US$ 18,08 miliar atau sekitar 81% dari total ekspor Sulteng pada 2025.

Dari sisi komoditas, ekspor Sulteng masih didominasi produk besi dan baja dengan pangsa 61,31%, disusul nikel sebesar 16,59%. FeNi, NPI ,dan berbagai produk turunan logam menjadi bagian dari komoditas utama ekspor Sulteng.

Sementara itu, dua komoditas andalan ekspor berbasis nikel dari kawasan IMIP yakni baja nirkarat dan MHP.

Adapun, PT IMIP mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.

Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.

Dia menyatakan sumber daya air menjadi salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel HPAL, pabrik produksi kokas, serta pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).

“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi,” tegas Dedy.

Kendati begitu, dia menegaskan dampak dari fenomena El Niño tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP sampai terhenti ataupun melakukan pengurangan tenaga kerja.

“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.

(wdh)

No more pages