Logo Bloomberg Technoz

“Saya sangat nyaman menghabiskan waktu berjam-jam untuk meneliti perusahaan-perusahaan tersebut, dan saya benar-benar menyukainya,” kata Ian. 

“Saya memiliki toleransi risiko untuk itu, dan untungnya, saya mendapatkan imbal hasilnya.”

Banyak orang tua mengambil pilihan yang sama. Mereka membuka rekening yang memungkinkan anak-anak remaja mempelajari dasar-dasar investasi—dengan pengawasan mereka. 

Perusahaan-perusahaan keuangan pun melihat peluang ini dengan meluncurkan produk yang dirancang untuk menarik minat orang tua sekaligus mengikat generasi nasabah baru yang lebih muda.

Charles Schwab Corporation, misalnya, tahun ini meluncurkan rekening pialang bersama untuk remaja dan orang tua mereka. Sementara itu, Acorns Grow Inc., perusahaan yang bergerak di bidang kesejahteraan finansial dan investasi mikro, meluncurkan Acorns Early Invest, rekening yang dikelola orang tua dan berinvestasi pada exchange-traded funds (ETF). Aplikasi Acorns juga memungkinkan orang tua memberikan tugas rumah kepada anak dan secara otomatis mengalokasikan uang saku mereka ke investasi.

Detail perusahaan yang menawarkan investasi untuk anak. (Sumber: The Charles Schwab Corp., Acorns Grow Inc., Greenlight Financial Technology Inc.)

Seperti Aaron, banyak orang tua ingin anak-anak mereka mulai berinvestasi sejak dini justru karena mereka sendiri tidak melakukannya. Setelah kehilangan kesempatan meraih keuntungan selama bertahun-tahun, mereka bertekad agar hal serupa tidak terjadi pada anak-anak mereka.

Namun, sebagian lainnya terdorong oleh kekhawatiran terhadap perekonomian di masa depan, yang mungkin berubah secara drastis akibat kecerdasan buatan (AI). Mereka melihat pengajaran keterampilan investasi sejak dini sebagai salah satu cara untuk memastikan anak-anak mereka tetap dapat memperoleh penghasilan meskipun kondisi pasar kerja nantinya sudah sangat berbeda dari sekarang. Anak-anak mereka juga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan Social Security, karena dana perwalian program tersebut diproyeksikan akan habis pada 2032.

“Mereka mewarisi perekonomian yang jauh lebih sulit dibandingkan ketika saya bergabung dengan Angkatan Udara pada 1997,” kata Janelle Just Quinn, 47 tahun, seorang veteran dan pendiri 3FIVE Wealth di Dallas. Tahun ini, dia membuka rekening Schwab untuk kedua putrinya yang masih remaja. “Saya memastikan mereka mengetahui apa saja pilihan yang mereka miliki,” kata Quinn.

Survei Charles Schwab Corporation tahun ini menemukan bahwa 73% orang tua yang berpartisipasi menganggap sangat penting bagi remaja untuk mempelajari investasi. Survei yang sama menunjukkan 59% remaja sudah mengetahui tentang investasi sebelum berusia 13 tahun, dibandingkan dengan hanya 6% orang tua mereka.

Rekening yang ditujukan untuk remaja biasanya dilengkapi kontrol orang tua yang cukup ketat. Melalui Acorns Early, orang tua mengelola rekening dan dapat memilih apakah akan memberikan kartu debit yang terhubung dengan rekening tersebut kepada anak. Namun, aset di dalam rekening tetap menjadi milik anak. Orang tua juga dapat memberikan “money missions”, yakni pelajaran keuangan berbentuk permainan yang memberikan penghargaan setelah diselesaikan.

Startup Greenlight Financial Technology Inc. juga menawarkan rekening investasi yang dimiliki orang tua. Anak dapat mengusulkan transaksi, tetapi setiap pembelian atau penjualan saham harus mendapat persetujuan orang tua. Menurut perusahaan, nasabah berusia 15 hingga 18 tahun telah menginvestasikan US$9,2 juta melalui platform tersebut sepanjang tahun ini.

Melalui rekening bersama baru Schwab, orang tua dan remaja sama-sama dapat melakukan transaksi saham dan menarik dana. Orang tua juga dapat mengaktifkan notifikasi transaksi secara real-time untuk memantau aktivitas investasi anak.

Schwab turut menyediakan modul edukasi bagi investor muda, yang tampaknya cukup banyak digunakan oleh anak-anak, kata Heather Fischer, managing director retail client experience perusahaan tersebut.

“Jadi, mereka membuat keputusan secara bertanggung jawab dan berdasarkan pengetahuan, dan itulah yang sebenarnya kami inginkan,” ujarnya.

Menurut Fischer, investor remaja di Schwab cenderung lebih banyak menempatkan dana pada saham perusahaan secara individual ketimbang ETF. Mereka juga lebih tertarik pada perusahaan-perusahaan besar.

“SpaceX, Google, Amazon, Apple—kami melihat banyak minat dari remaja terhadap perusahaan-perusahaan tersebut,” katanya.

Naseema McElroy membuka rekening Acorns Early untuk putrinya, Naima, sebagai bagian dari upaya mengajarkan dasar-dasar pengelolaan keuangan. Perawat terdaftar itu ingin putrinya yang berusia 12 tahun memahami investasi sejak dini agar kelak tidak merasa takut atau asing dengan investasi.

“Orang-orang sering menganggap investasi sebagai sesuatu yang besar, padahal seharusnya investasi menjadi bagian dari kehidupan yang berjalan di latar belakang dan dilakukan secara otomatis,” kata Naseema, 45 tahun, dari San Francisco.

Memulai investasi sejak dini memang memiliki manfaat, tetapi juga menyimpan sejumlah risiko. Erika Rasure dari perusahaan konsolidasi utang dan jasa keuangan Beyond Finance mengatakan remaja berisiko menganggap investasi sebagai perjudian, terutama jika mereka terpengaruh media sosial yang kerap mendorong imbal hasil cepat.

Mereka juga dapat mengaitkan identitas diri dengan kekayaan bersih atau kinerja portofolio—sesuatu yang tidak sehat bagi orang dewasa maupun anak-anak.

“Hal ini perlu ditempatkan dalam perspektif sehingga seorang anak dapat mengatakan, ‘Portofolio saya tumbuh karena saya membuat keputusan yang matang,’” kata Rasure, chief financial wellness adviser perusahaan tersebut. “Ada perbedaan besar antara itu dengan mengatakan, ‘Saya berharga karena portofolio saya tumbuh.’”

Connor Du, 17 tahun, berusaha mengabaikan hiruk-pikuk media sosial yang menekankan keuntungan cepat. Siswa kelas 12 SMA di San Diego itu mulai berinvestasi karena ingin memahami cara kerja ekonomi dan perusahaan.

Ia meminta orang tuanya membuka rekening bersama di Interactive Brokers. Di sana, ia melakukan seluruh pembelian saham dengan persetujuan orang tuanya.

Setiap investasi yang dibuatnya dicatat dalam buku jurnal, termasuk harga pembelian saham dan alasan yang mendorongnya membeli. Ia kemudian mencatat kinerja saham tersebut serta kesalahan yang mungkin dilakukannya.

“Hal baik dari berinvestasi di usia saya adalah taruhannya masih relatif kecil—masih bisa dikelola,” kata Du. “Waktu sangat penting bagi saya karena Anda tidak pernah bisa mengendalikan pasar, tetapi Anda bisa mengendalikan kapan Anda memulai.”

(bbn)

No more pages