Logo Bloomberg Technoz

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Rabu (2/9/2026).

  1. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 4,63 poin
  2. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengurangi 3,04 poin
  3. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 2,96 poin
  4. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 2,86 poin
  5. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 2,72 poin
  6. PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 2,45 poin
  7. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 2,24 poin
  8. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengurangi 2,15 poin
  9. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 1,75 poin
  10. PT United Tractors Tbk (UNTR) mengurangi 1,49 poin

Adapun saham–saham LQ45 juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) drop 5,04%, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpeleset 3,76%, dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga melemah dengan kehilangan 2,81%.

Saham LQ45 potensial lainnya turut menjadi pemberat IHSG, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) drop 2,8%, saham PT  Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) melemah 2,78%, dan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) juga terjebak di zona merah dengan drop 2,17%.

Terlebih lagi IHSG tersulut sentimen ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas (lagi). Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, militer AS gencar melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target di Iran, sementara Republik Islam tersebut mengatakan telah melakukan serangan balasan. 

Aksi saling serang antara kedua pihak pun kembali meningkat tajam.

Donald Trump menegaskan serangan AS merupakan aksi balasan atas upaya Iran memasang ranjau di Selat Hormuz serta serangan sebelumnya terhadap sebuah pangkalan militer. Dia memperingatkan akan ada lebih banyak serangan jika Teheran memberikan respons.

Sentimen pasar tambah terguncang setelah eskalasi pertempuran antara AS dan Iran meningkatkan risiko gangguan lebih lanjut terhadap arus minyak melalui Selat Hormuz.

Dampak langsungnya terasa di pasar komoditas, harga West Texas Intermediate melesat hingga 8,74% menembus US$90,68 per barel. Brent juga melejit 8,4% di atas US$95,45 per barel pada perdagangan di pasar global, berdasarkan data Bloomberg dilihat per Rabu (2/9/2026).

Harga minyak melejit turut menyulut kekhawatiran terhadap inflasi yang mengganas, dengan pasar saat ini lebih mengestimasikan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah yang terus berfluktuasi dengan kecenderungan melemah, menyeret laju IHSG di zona merah. Hal ini mencerminkan investor masih memasang premi risiko yang tinggi bagi aset berdenominasi rupiah.

Rupiah pada perdagangan siang hari ini, Rabu (2/9/2026) melanjutkan tren pelemahan. Mengacu data Bloomberg, rupiah tengah melemah 0,28% di pasar spot di posisi Rp17.776/US$.

Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support menarik dicermati pada level Rp17.800/US$ dan selanjutnya Rp17.900/US$ secara potensial menahan rupiah.

Sentimen global yang masih panas, menyulut penguatan Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,1% hingga mencapai 99,724.

Phillip Sekuritas Indonesia menyebut, serangan terbaru militer AS atas Iran mendongkrak kenaikan harga minyak mentah dan memicu kenaikan biaya pinjaman ke tingkat tertinggi sejak awal tahun lalu.

Serangan bertubi-tubi tersebut terjadi setelah dua kapal tanker minyak dihantam saat berupaya keluar dari Selat Hormuz, sehingga mendorong harga kontrak berjangka (Futures) minyak mentah jenis Brent, tolok ukur global, melejit hingga di atas level US$95 per barel.

“Harga minyak mentah mencatat kenaikan tajam setelah militer AS menyatakan telah melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target di Iran, indikasi kembali memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah,” papar Phillip Sekuritas Indonesia dalam catatan terbarunya.

Seiringan dengan perang AS-Iran yang terus memanas, risk appetite atau keberanian investor mengambil risiko turut menyusut.

(fad)

No more pages