"Para peneliti juga mulai mengkaji potensi B60—apakah formulanya B50 ditambah 10% HVO," jelas Eniya dalam kesempatan yang sama.
Lebih Mahal
Dia menyebutkan HVO sudah diproduksi oleh Pertamina, meski begitu harga bahan bakar nabati berbasis hydrotreated tersebut masih relatif mahal, yakni berkisar 1,5 hingga 2 kali lipat dari harga fatty acid methyl ester (FAME).
Selain persoalan formula dan biaya, pemerintah menegaskan bahwa fokus utama saat ini masih tertuju pada pengawasan serta penuntasan distribusi B50 sebelum melangkah ke uji coba B60 secara penuh.
"Belum, saat ini fokus utama kami masih pada pengawasan B50," tegas Eniya.
Eniya menambahkan penyaluran B50 saat ini berada dalam tahap pemantauan akhir.
Penyaluran di lingkup Pertamina telah menembus angka lebih dari 90%, sementara rata-rata penyaluran nasional yang menggabungkan sektor non-Pertamina telah mencapai sekitar 80%.
"Mengenai B50, saat ini masih dalam tahap pengawasan selama dua bulan. Penyaluran B50 di Pertamina sudah lebih dari 90%, sedangkan jika dirata-ratakan dengan sektor non-Pertamina mencapai sekitar 80%," terang Eniya.
Pemerintah optimistis keberhasilan penerapan B50 akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor pengembang bahan bakar nabati tingkat tinggi di dunia.
"Kami masih memantau satu bulan ini agar seluruh penyaluran terpenuhi. Indonesia ini pionir di dunia untuk B50; bahkan belum ada jurnal internasional yang membahasnya, justru para peneliti kita yang sedang menulis untuk mempublikasikannya secara internasional," kata Eniya.
Untuk diketahui, HVO merupakan salah satu inovasi bahan bakar alternatif yang paling menjanjikan dalam transisi energi bersih dunia saat ini.
HVO diproduksi melalui proses hidrogenasi, di mana minyak nabati atau lemak hewani direaksikan dengan hidrogen pada tekanan dan suhu tinggi.
Berbeda dengan FAME, HVO memiliki stabilitas penyimpanan yang sangat tinggi, titik beku yang lebih rendah, serta bebas dari sifat korosif yang sering menyumbat saringan mesin.
Adapun, sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang untuk mengkerek campuran FAME dalam B60.
Hal itu dilakukan guna memitigasi dampak rambatan dari kenaikan harga minyak dan potensi pengetatan pasokan dari Timur Tengah.
Akan tetapi, Bahlil menilai dengan potensi CPO yang dimiliki Indonesia, bisa saja campuran FAME dalam diesel tersebut dikerek naik menjadi B60.
Sebagai informasi, kebutuhan CPO sebagai bahan baku utama biodiesel akan melonjak sangat signifikan untuk mendukung penerapan B60.
Berdasarkan estimasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) jika alokasi B40 saja membutuhkan sekitar 11,6 hingga 13,5 juta ton CPO per tahun, maka penerapan B60 dapat menyerap 18 hingga 20 juta ton CPO atau hampir 40% dari total produksi CPO nasional per tahun.
Lonjakan permintaan ini membutuhkan kepastian pasokan yang stabil agar industri biodiesel tidak mengalami defisit bahan baku.
(smr/wdh)





























