Ia menyoroti faktor biaya sebagai hambatan signifikan bagi industri ini dalam upayanya untuk mengurangi emisi karbon. Poliester murni masih lebih murah dan lebih mudah didapat daripada bahan daur ulang, katanya.
Saat ini, ketika ketidakstabilan akibat konflik Iran memicu kenaikan harga energi, Kipka menilai hal tersebut menunjukkan perlunya produsen pakaian mencari alternatif selain minyak dan gas.
"Di sinilah sumber energi terbarukan dan penyimpanan baterai di lokasi pabrik menjadi pilihan yang lebih menarik," ujarnya.
Sektor ini diproyeksikan mengalami penurunan laba sebesar 34% pada 2030, menurut temuan penelitian terpisah dari institut tersebut, akibat gangguan rantai pasokan dan biaya operasional yang lebih tinggi, kecuali jika perusahaan bertindak cepat untuk menekan emisi karbon mereka.
Industri mode juga mencatat sejumlah keberhasilan: Jumlah perusahaan pakaian yang telah menyetujui target iklim berbasis sains atau berkomitmen untuk menetapkannya meningkat dari sekitar 100 pada akhir 2021 menjadi lebih dari 700 per Juni tahun ini.
Laporan tersebut menemukan bahwa merek-merek besar telah melaporkan penurunan emisi hingga dua digit dan meningkatkan penggunaan serat daur ulang dalam produk pakaian mereka.
Meski demikian, perusahaan-perusahaan di sektor ini telah mengurangi komitmen ramah lingkungannya di tengah perubahan politik dan tekanan inflasi.
Awal tahun ini, Burberry menunda target sebelumnya untuk mencapai nol emisi bersih pada 2040 hingga satu dekade ke depan.
(bbn)

































