Logo Bloomberg Technoz

Krisis Chip Mulai Terbukti, Harga Laptop-PC Terancam Kian Mahal

Redaksi
01 September 2026 17:25

Pengunjung menggunakan laptop di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (29/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menggunakan laptop di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (29/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, JakartaKekhawatiran kenaikan harga perangkat komputer dan laptop akibat krisis chip dan memori yang muncul sejak awal 2026 mulai terbukti. Tekanan dipicu lonjakan kebutuhan chip untuk pusat data dan artificial intelligence (AI) membuat pasokan untuk perangkat konsumen semakin ketat.

Sinyal mengenai ancaman tersebut sebenarnya sudah muncul sejak awal tahun. Pada Januari 2026, International Data Corporation (IDC) memperingatkan bahwa krisis pasokan chip memori dapat menekan pasar PC global sekaligus mendorong kenaikan harga komputer.

Dalam skenario terburuk, IDC memperkirakan pasar PC global dapat mengalami kontraksi hingga 8,9% pada 2026. Dalam skenario yang lebih moderat, pasar diproyeksikan menyusut 4,9%.

IDC melihat krisis tersebut berasal dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan memori. Permintaan untuk pusat data AI meningkat pesat, sementara kapasitas produksi tidak mampu bertambah dengan kecepatan yang sama. “Situasinya menjadi lebih akut sejak publikasi,” tulis IDC dalam laporan, dikutip Selasa (1/9/2026).

Pada tahap ini, ancaman kenaikan harga masih berupa proyeksi. Namun, memasuki bulan-bulan berikutnya, sinyal dari industri semakin kuat. Validasi datang dari salah satu produsen PC terbesar dunia, Lenovo Group Ltd. Melalui CEO Yang Yuanqing, perusahaan  memperkirakan, kelangkaan pasokan memori akan terus berlangsung sepanjang 2026. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pasokan bukan sekadar gangguan sementara yang dapat diselesaikan dalam hitungan bulan.

Raksasa chip asal Korea Selatan, SK Hynix Inc., bahkan memberikan dana lebih pesimis dan terus berlanjut hingga tahun 2030. Memori diketahui jadi perangkat yang sangat dicari saat booming artificial intelligence (AI). Operator pusat data banyak menyerap memori konvensional hingga perangkat ini begitu diperebutkan.

Merembet ke Apple

Pengunjung menggunakan laptop di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (29/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Tekanan ini mulai merambat ke perusahaan teknologi dengan skala yang jauh lebih besar, termasuk Apple. Perusahaan tersebut dikabarkan menghadapi dilema terkait MacBook Neo, produk yang sejak awal diposisikan sebagai laptop dengan harga relatif terjangkau untuk memperluas akses konsumen terhadap ekosistem Mac.

MacBook Neo diperkenalkan dengan harga mulai US$599. Harga tersebut membuatnya menjadi salah satu produk agresif Apple untuk menarik konsumen baru. Namun, justru produk murah tersebut yang menghadapi tekanan ketika biaya komponen meningkat.

Pada Mei 2026, Apple dikabarkan mempertimbangkan untuk menghilangkan varian MacBook Neo termurah akibat kenaikan biaya chip dan memori. Salah satu opsi yang disebut adalah menghapus konfigurasi 256GB, sementara alternatif lainnya adalah menaikkan harga.

Tekanan tersebut semakin menarik karena MacBook Neo menggunakan chip A18 Pro, yang sebelumnya digunakan pada iPhone 16 Pro. Permintaan awal yang tinggi membuat Apple perlu meningkatkan produksi, sementara pasokan komponen juga menghadapi tekanan.

Perkembangan tersebut menjadi validasi kedua atas kekhawatiran yang sudah muncul pada awal tahun. Jika produsen sekelas Apple mulai menghitung ulang kelayakan mempertahankan konfigurasi termurah, tekanan harga komponen tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan yang hanya terjadi di level pemasok.

Pasar Indonesia Ikut Tertekan

Kelangkaan chip hingga pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi serangan ganda pada pasar harga laptop, server, storage, hingga perangkat jaringan, hingga mendorong lonjakan harga jual, ditekankan Sekjen Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNAS), Fanky Christian.

“Ya, potensi kenaikan harga tetap ada. Memang setelah krisis chip global mereda, supply chain industri teknologi mulai kembali normal dan harga perangkat sempat lebih stabil. Namun tekanan nilai tukar saat ini berpotensi mengurangi stabilitas tersebut,” kata Fanky.

Krisis chip dan memori tidak serta-merta membuat harga laptop atau PC langsung melonjak. Dampaknya bergerak secara bertahap melalui rantai pasok. Pertama, permintaan meningkat, sementara kapasitas pasokan menjadi terbatas sehingga harga komponen naik dan menekan margin produsen.

Kondisi ini kemudian mendorong produsen menyesuaikan konfigurasi produk, sementara distributor dan importir menghadapi biaya yang lebih tinggi. Pada akhirnya, tekanan tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. 

Dari sisi produsen laptop, HP Indonesia juga mengakui bahwa tekanan akibat kelangkaan chip dan memori sudah mulai terasa, dengan mengatakan bahwa chip saat ini sudah menjadi persoalan yang diketahui secara luas di industri teknologi. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya kebutuhan chip untuk pengembangan AI dan pusat data, terang Edo Jonathan Chandra, Consumer Personal Systems Category Manager HP Indonesia.

“Kalau kita lihat dari hasil yang dikutip dari IDC maupun yang lain, semua berita sudah cukup banyak bahwa memang ini kan bukan lagi menjadi hal yang rahasia. Istilahnya ini sudah jadi hal umum,” kata Edo.

Ia menambahkan, perkembangan AI di AS membuat kebutuhan terhadap chip untuk server dan pusat data meningkat signifikan. Kondisi tersebut kemudian ikut memengaruhi ketersediaan komponen yang digunakan untuk perangkat konsumen, termasuk PC dan laptop.

“Karena perkembangan chip dari yang di Amerika Serikat dengan AI dan semuanya, server itu sudah banyak. Sehingga kontribusi untuk mereka itu sudah memakan cukup besar,” ujarnya.

Edo bahkan menyarankan konsumen yang memang sudah membutuhkan perangkat baru untuk tidak terlalu lama menunda pembelian. Pasalnya, HP melihat tekanan pasokan chip tidak akan segera berakhir. “Kalau banyak customer yang suka tanya sama saya, kapan sih saat terbaik untuk mengganti PC mereka ataupun apa semua? Ya, saat terbaiknya sekarang,” tegas dia.

Dia memperkirakan krisis chip dan memori masih akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Edo mengacu pada pernyataan sejumlah petinggi industri semikonduktor yang memperkirakan persoalan tersebut dapat berlanjut hingga lebih dari 2028.

Tekanan tersebut juga sudah mulai dirasakan HP dalam bentuk perubahan harga. Edo menyatakan perusahaan telah melihat adanya kenaikan dan perubahan harga dibandingkan periode sebelumnya.

“Kalau untuk yang di situ kita sudah melihat dan kami berusaha untuk memastikan bahwa dampaknya itu tidak sampai yang benar-benar ber-impact, karena biar bagaimanapun kenaikan harga itu tidak bisa dihindari,” urai Edo.