Logo Bloomberg Technoz

Menutup Agustus, Rupiah Melemah ke Rp17.720/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
31 August 2026 15:05

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan bulan Agustus dengan pelemahan 0,28% ke posisi Rp17.720/US$, kala ekspektasi pasar berubah dengan adanya sinyal hawkish The Fed dan proyeksi perlambatan data perdagangan Indonesia. 

Melansir data Bloomberg pada Senin (31/8/2026), sepanjang Agustus rupiah masih menguat 1,47% dan menempati posisi keempat di antara mata uang Asia yang menguat sepanjang bulan. Namun, angka ini sedikit terkikis dari posisi rupiah pada Jumat (28/8/2026) yang sempat menguat 1,52%. 

Rupiah di pasar spot defensif meski masih mencatat pelemahan 0,16% ke Rp17.720/US$. (Bloomberg)

Pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh beberapa sentimen yang membebani pergerakannya. Pertama, sinyal hawkish yang dikirim The Fed kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) turut mendorong kenaikan yield US Treasury tenor pendek, serta terapresiasinya dolar Amerika Serikat (AS). 


Kedua, kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 0,48% ke US$89,74/barel masih meningkatkan kekhawatiran akan adanya imported inflation. Inflasi diperkirakan naik menjadi 3,15% dari posisi sebelumnya 2,88% secara tahunan. 

Kenaikan inflasi diperkirakan terutama berasal dari makanan dan bahan bakar. Subsidi pemerintah memang masih menjadi bantalan sehingga transmisi kenaikan harga energi global ke konsumen belum sepenuhnya terasa.